Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". (QS. Ibrahim:7)
Saat kehilangan sesuatu, saat mengalami kerugian, atau saat tidak
mendapatkan sesuatu yang kita inginkan, sering kali jiwa kita terguncang
sehingga patah semangat, tidak lagi memiliki motivasi. Kita sering lupa
mensyukuri yang sudah kita miliki, kita juga sering melupakan hikmah yang tak
ternilai dari suatu kegagalan yang harusnya kita syukuri.
Padahal berdasarkan ayat diatas, jika kita mau bersyukur maka Allah
menjanjikan akan menambah nikmat kita. Oleh karena itu kita seharusnya
menysukuri apa yang sudah Allah berikan kepada kita, kita juga harus
mensyukuri apa yang kita dapatkan meskipun sekecil apa pun.
Ini adalah rahasia melipat gandakan nikmat kita. Saat kita berusaha, syukurilah
nikmat yang kita dapatkan agar ditambah oleh Allah SWT. Jadi, tetaplah
semangat meski hasil kita kecil, sebab jika kita mensyukurinya, yang kecil
tersebut bisa menjadi besar. Sangat ironis, sudah kecil, tidak kita syukuri.
Alangkah bodohnya orang yang tidak mau mensyukuri nikmat Allah SWT.
Mereka sering menyangka bahwa yang namanya nikmat itu adalah rezeki dalam
bentuk materi yang jumlahnya besar. Padahal tidak, nikmat yang sudah kita
dapatkan itu sangat banyak, jika kita berusaha untuk menyebutkannya, kita tidak
akan bisa. Seperti yang dijelaskan dalam Al Quran,
Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dan segala apa yang kamu
mohonkan kepadanya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, tidaklah dapat
kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu, sangat zalim dan sangat
mengingkari (nikmat Allah). (QS Ibrahim:34)
Nikmatilah hidup, tetaplah semangat meski penghasilan kita kecil, karena kita
bisa melipat gandakannya dengan mensyukurinya. Renungkanlah, betapa
banyaknya nikmat yang sudah kita miliki. Jangan risau, jangan takut untuk gagal,
sebab kegagalan sebesar apa pun tidak akan menghabiskan nikmat-nikmat yang
ada pada diri kita.
SEMANGAAAAAT...... ^_^
Minggu, 25 Oktober 2009
.:: Mengemis Kasih ::.
Entah knpa ingin skali pgi ini menuliskan sebait lirik....
Lirik nasyid tp mgkin mwakili riak hati...
Sbuah dendangan sendu namun pnuh makna dr sang 'The Zikr' dg 'Mengemis Kasih'ny...
Simak ya.......(yg tw laguny ayoo ikutan nyanyi...he..)
"Tuhan dulu pernah aq menagih simpati kpd manusia yg alpa jg lupa...
Lalu terhiritlah aq d lorong gelisah, luka hati yg brdarah, kini jd kian parah...
Semalam sdh smpai k pnghujungny, riak seribu luka kuhrap sdh brlalu..
Tak ingin lagi ku ulangi kmbli, gerak dosa yg mghiris hati...
Tuhan dosaku menggunung tinggi, namun pgampunanMu tiada brtepi...
Bila slangkah ku rapat padaMu, seribu langkah Kau rapat padaku.."
(Nice song...!!)
Ya Rabb maafkan bila hati tak smpurna mencintaiMu...
Jgn Kau hukum kami dg kegelisahan krn kesalahan Kami...
Izinkan kami mencintaiMu smampu kami scra sederhana dg hati brnoda yg kami miliki...
-------Speechless------
___________
07/10/09
Lirik nasyid tp mgkin mwakili riak hati...
Sbuah dendangan sendu namun pnuh makna dr sang 'The Zikr' dg 'Mengemis Kasih'ny...
Simak ya.......(yg tw laguny ayoo ikutan nyanyi...he..)
"Tuhan dulu pernah aq menagih simpati kpd manusia yg alpa jg lupa...
Lalu terhiritlah aq d lorong gelisah, luka hati yg brdarah, kini jd kian parah...
Semalam sdh smpai k pnghujungny, riak seribu luka kuhrap sdh brlalu..
Tak ingin lagi ku ulangi kmbli, gerak dosa yg mghiris hati...
Tuhan dosaku menggunung tinggi, namun pgampunanMu tiada brtepi...
Bila slangkah ku rapat padaMu, seribu langkah Kau rapat padaku.."
(Nice song...!!)
Ya Rabb maafkan bila hati tak smpurna mencintaiMu...
Jgn Kau hukum kami dg kegelisahan krn kesalahan Kami...
Izinkan kami mencintaiMu smampu kami scra sederhana dg hati brnoda yg kami miliki...
-------Speechless------
___________
07/10/09
Senin, 28 September 2009
MENIKAH
Menikah, kata yang ingin ku hindari untuk mendengarnya akhir2 ini. Rada sensitif soalnya..hehe..
Tapi malah justru semakin lekat saja dalam pendengaran karena topik yang paling sering dibahas kalau lagi ngumpul dengan temen2…(Huuaaah parah, masak harus tutup telinga sih..!! :p). Gak di dunia nyata dan dunia maya kebanyakan pembahasan sama : keinginan menikah..!, beginilah pembahasan orang dewasa (**masih merasa kecil aja, gk inget umur apa..hehe..). Kalau ketemu tmn2 lama pun ditanya “Kapan nyusul??”, Dalam hati cuma bisa berujar “Gak ada pertanyaan lain yaa?? :p”.
Siapa sih yang gak ingin menikah, menggenapkan setengah dien, dimana perhatian dan amalan yang kita lakukan dan berikan jadi lebih bernilai pahala??..Saya rasa semua pasti ingin menikah, bisa dibilang gak normal kalau gak ingin menikah..hehe…Tapi disini bukanlah masalah keinginannya tapi sudah sejauh mana mempersiapkan hati, visi, misi, dan grand design keluarga yang diinginkan. Kalau semua blm sempat terfikirkan maka saya pribadi sendiri pun belum berani untuk masuk dalam topik ini.
Menikah bukan sekedar ‘penjagaan hati’ tapi lebih dari itu, juga bukan sekedar keinginan atau dorongan hati, atau juga bukan karena ‘keterpaksaan’ umur..Menikah adalah suatu yang mulia, pengalaman yang sangat berharga dalam sebuah episode kehidupan, dimana fitrah tersalurkan..Fitrah untuk memberikan cinta, perhatian dan kasih sayang..Dimana ada sebuah pengabdian, pengabdian yang berbuah syurga..Oleh karena itu dia bukan hanya menjadi sebuah pembahasan, bukan sekedar bahan obrolan, ataupun bukan sekedar keinginan, tapi ia adalah hal yang harus dipersiapkan dengan matang dan direncanakan, kemudian segera realisasikan.. ^^
Pernah suatu hari mendengar sebuah pernyataan dari seorang teman “Gw lagi banyak masalah nih, kayaknya kalau gini mending nikah aja dah..”, weitzz…nikah kok jadi pelarian. Awal2nya sih gak nyambung, apa sih hubungannya nikah dengan penyelesaian masalahnya…ternyata yang dimaksud adalah agar ada seseorang tempat berbagi, membantu minimal memberikan support untuknya untuk menyelesaikan segala masalah… (Oooooo… :D )
Yaa, menikah adalah menyatukan dua orang manusia yang pasti mempunyai karakter yang berbeda, disinilah sulitnya, ditantang bagaimana bisa menerima sepenuhnya seseorang yang menjadi pasangan kita nantinya, baik fisik maupun pemikiran, apapun karakternya, bagaimanapun latar belakangnya, apapun profesinya, dan bagaimanapun keadaannya.. Menikah juga bukan hanya menyatukan dua insan tapi dua keluarga besar. Sudahkh terfikirkan??.
Menikah juga bukan hal yang harus disegarakan tapi juga bukan hal yang harus ditunda-tunda dengan berbagai alasan, dia akan tiba tepat pada waktunya. Dengan orang yang terbaik, dan waktu yang tepat.. Yakinlah kawan….Semua kan terasa indah ketika sudah tiba saatnya.. So tak perlu banyak dibahas, tak perlu banyak mengumbar keinginan, yang terpenting adalah persiapan menuju kesana…Sekali lagi persiapan Visi, Misi dan Grand Design^^…Karena keluarga adalah bagian paling penting dari sebuah peradaban… Allah lebih tau kapan kau telah siap…
Sebenarnya inti dari tulisan ini adalah cuma ingin bilang : ‘kalau sudah terbersit ttg keinginan menikah, so berfikirlah sejauh mana GrandDesign keluarga itu sudah dibuat??’ ^_^
(**Tulisan ini kagak ada endingnya, bingung, asli..!!, sebenarnya banyak yang ingin ditulis tp kok ya suliiit dituangkan hehe….Sampe kehabisan kata2. So, to be continue lah…….^_^ ***)
Kotabumi, 28 September 2009 / 10 Syawal 1430 H
Pukul 07.29 a.m
Tapi malah justru semakin lekat saja dalam pendengaran karena topik yang paling sering dibahas kalau lagi ngumpul dengan temen2…(Huuaaah parah, masak harus tutup telinga sih..!! :p). Gak di dunia nyata dan dunia maya kebanyakan pembahasan sama : keinginan menikah..!, beginilah pembahasan orang dewasa (**masih merasa kecil aja, gk inget umur apa..hehe..). Kalau ketemu tmn2 lama pun ditanya “Kapan nyusul??”, Dalam hati cuma bisa berujar “Gak ada pertanyaan lain yaa?? :p”.
Siapa sih yang gak ingin menikah, menggenapkan setengah dien, dimana perhatian dan amalan yang kita lakukan dan berikan jadi lebih bernilai pahala??..Saya rasa semua pasti ingin menikah, bisa dibilang gak normal kalau gak ingin menikah..hehe…Tapi disini bukanlah masalah keinginannya tapi sudah sejauh mana mempersiapkan hati, visi, misi, dan grand design keluarga yang diinginkan. Kalau semua blm sempat terfikirkan maka saya pribadi sendiri pun belum berani untuk masuk dalam topik ini.
Menikah bukan sekedar ‘penjagaan hati’ tapi lebih dari itu, juga bukan sekedar keinginan atau dorongan hati, atau juga bukan karena ‘keterpaksaan’ umur..Menikah adalah suatu yang mulia, pengalaman yang sangat berharga dalam sebuah episode kehidupan, dimana fitrah tersalurkan..Fitrah untuk memberikan cinta, perhatian dan kasih sayang..Dimana ada sebuah pengabdian, pengabdian yang berbuah syurga..Oleh karena itu dia bukan hanya menjadi sebuah pembahasan, bukan sekedar bahan obrolan, ataupun bukan sekedar keinginan, tapi ia adalah hal yang harus dipersiapkan dengan matang dan direncanakan, kemudian segera realisasikan.. ^^
Pernah suatu hari mendengar sebuah pernyataan dari seorang teman “Gw lagi banyak masalah nih, kayaknya kalau gini mending nikah aja dah..”, weitzz…nikah kok jadi pelarian. Awal2nya sih gak nyambung, apa sih hubungannya nikah dengan penyelesaian masalahnya…ternyata yang dimaksud adalah agar ada seseorang tempat berbagi, membantu minimal memberikan support untuknya untuk menyelesaikan segala masalah… (Oooooo… :D )
Yaa, menikah adalah menyatukan dua orang manusia yang pasti mempunyai karakter yang berbeda, disinilah sulitnya, ditantang bagaimana bisa menerima sepenuhnya seseorang yang menjadi pasangan kita nantinya, baik fisik maupun pemikiran, apapun karakternya, bagaimanapun latar belakangnya, apapun profesinya, dan bagaimanapun keadaannya.. Menikah juga bukan hanya menyatukan dua insan tapi dua keluarga besar. Sudahkh terfikirkan??.
Menikah juga bukan hal yang harus disegarakan tapi juga bukan hal yang harus ditunda-tunda dengan berbagai alasan, dia akan tiba tepat pada waktunya. Dengan orang yang terbaik, dan waktu yang tepat.. Yakinlah kawan….Semua kan terasa indah ketika sudah tiba saatnya.. So tak perlu banyak dibahas, tak perlu banyak mengumbar keinginan, yang terpenting adalah persiapan menuju kesana…Sekali lagi persiapan Visi, Misi dan Grand Design^^…Karena keluarga adalah bagian paling penting dari sebuah peradaban… Allah lebih tau kapan kau telah siap…
Sebenarnya inti dari tulisan ini adalah cuma ingin bilang : ‘kalau sudah terbersit ttg keinginan menikah, so berfikirlah sejauh mana GrandDesign keluarga itu sudah dibuat??’ ^_^
(**Tulisan ini kagak ada endingnya, bingung, asli..!!, sebenarnya banyak yang ingin ditulis tp kok ya suliiit dituangkan hehe….Sampe kehabisan kata2. So, to be continue lah…….^_^ ***)
Kotabumi, 28 September 2009 / 10 Syawal 1430 H
Pukul 07.29 a.m
KEGELAPAN, KETINGGIAN DAN HEWAN YANG BERGERAK CEPAT… (^3 hal yang hrs sgr ditaklukkan^)
KEGELAPAN : Pekat, hitam, yang membuat ku tak mampu melihat apapun. Dada serasa sesak, mata serasa tak ‘berguna’…Gelap, membuatku tak bisa bergerak bebas, menimbulkan berjuta bayang imajinasi yang melayang bersama hilangnya cahaya. Ketika keadaan membuatku harus berada dalam tempat gelap, itulah saat yang paling menakutkan....Tubuh serasa kaku, menghilangkan kesadaran pandangan mata….Bila saat kegelapan tiba maka lebih baik kupejamkan mata karena ia tak lagi mampu menangkap cahaya. Namun pernah kucoba beranikan diri berlama-lama membuka mata di tempat yang gelap, ah ternyata gelap itu tidak seburuk yang aku fikirkan, lama-kelamaan dalam kegelapan itu kumulai bisa melihat satu…dua…tiga benda yang tadi sempat tak terlihat.. Ternyata dalam gelap kita masih bisa menemukan cahaya..!!.
KETINGGIAN : Sampai saat ini kubelum bisa menaklukkannya. Entahlah kenapa ia terlalu menakutkan..Seluruh tubuh terasa bergetar, keringat dingin bercucuran, jantung berdetak lebih kencang ketika ketinggian harus dilewati. Teringat ketika aku PU (Praktek Umum) di Pabrik Pengolahan Sawit PTPN VII Rejosari, topik yang ku ambil tentang proses pengolahan CPO, dan mengharuskanku untuk turun-naik bangunan pabrik yang ‘super’ tinggi…Oh tidak..! Sekali ku diajak naik ke pabrik tersebut, hebat..! kuberhasil sampai pada puncak proses pengolahan (tingkatan paling tinggi) dengan keringat bercucuran dan kaki yang gemetar. Apalagi ketika ku melihat ke bawah..Huaaaaa…begitu mengerikan..!!, Taukah akhirnya?? Keesokan harinya ku menghadap pembimbing lapang untuk mengganti topik. Topik apa aja deh yang penting gak pake ketinggian…he……Ckckckc…sebenarnya kuingin metertawakan diri sendiri, betapa lemahnya tidak mampu menaklukkan yang satu ini. Mukhoyam, Outbond, dan kegiatan fisik sering kali ku ikuti, tapi kalau urusn ktinggian ‘kabur aja deh..’ hehehe…Kalau disuruh merayap, lari, manjat dikit2 or jungkir balik sekalipun masih oke lah, asal jangan disuruh berjalan di tempat yang tinggi aja… (**Parah…huhuhu..^^)
HEWAN YANG BERGERAK CEPAT : Sebenarnya ku tak takut dengan kecoa, tikus, ular, dan kadal..tapi dengan syarat mereka harus ‘DIAM”..!!. (Mana mungkin yak? Diam kan berarti mati..hehe). Tapi kalau mereka sudah beraksi, wuaah ku bisa lari tunggang langgang dan menjerit histeris apalagi kalau sampai bergerak mendekati. Gerakan cepatnya itu loh yang mengerikan, bukan jenis hewannya...‘reaksi cepat’ mereka yang misterius huaaaah mengerikan..!!. Yang terfikirkan mereka bisa melakukan apa saja dalam geraknya, bisa jadi sesuatu yang tidak kita bayangkan….Itulah yang menakutkan.. Hhhiiiiii…sereeeem….., asli..!!!! :D
NB : Klw ada yang punya tips untuk menaklukkan ketiganya??? Mohon bantuannya, Please call me…. ^_^
Kotabumi, 27 September 2009 / 9 Syawal 1430 H
Pukul 16.27 a.m
KETINGGIAN : Sampai saat ini kubelum bisa menaklukkannya. Entahlah kenapa ia terlalu menakutkan..Seluruh tubuh terasa bergetar, keringat dingin bercucuran, jantung berdetak lebih kencang ketika ketinggian harus dilewati. Teringat ketika aku PU (Praktek Umum) di Pabrik Pengolahan Sawit PTPN VII Rejosari, topik yang ku ambil tentang proses pengolahan CPO, dan mengharuskanku untuk turun-naik bangunan pabrik yang ‘super’ tinggi…Oh tidak..! Sekali ku diajak naik ke pabrik tersebut, hebat..! kuberhasil sampai pada puncak proses pengolahan (tingkatan paling tinggi) dengan keringat bercucuran dan kaki yang gemetar. Apalagi ketika ku melihat ke bawah..Huaaaaa…begitu mengerikan..!!, Taukah akhirnya?? Keesokan harinya ku menghadap pembimbing lapang untuk mengganti topik. Topik apa aja deh yang penting gak pake ketinggian…he……Ckckckc…sebenarnya kuingin metertawakan diri sendiri, betapa lemahnya tidak mampu menaklukkan yang satu ini. Mukhoyam, Outbond, dan kegiatan fisik sering kali ku ikuti, tapi kalau urusn ktinggian ‘kabur aja deh..’ hehehe…Kalau disuruh merayap, lari, manjat dikit2 or jungkir balik sekalipun masih oke lah, asal jangan disuruh berjalan di tempat yang tinggi aja… (**Parah…huhuhu..^^)
HEWAN YANG BERGERAK CEPAT : Sebenarnya ku tak takut dengan kecoa, tikus, ular, dan kadal..tapi dengan syarat mereka harus ‘DIAM”..!!. (Mana mungkin yak? Diam kan berarti mati..hehe). Tapi kalau mereka sudah beraksi, wuaah ku bisa lari tunggang langgang dan menjerit histeris apalagi kalau sampai bergerak mendekati. Gerakan cepatnya itu loh yang mengerikan, bukan jenis hewannya...‘reaksi cepat’ mereka yang misterius huaaaah mengerikan..!!. Yang terfikirkan mereka bisa melakukan apa saja dalam geraknya, bisa jadi sesuatu yang tidak kita bayangkan….Itulah yang menakutkan.. Hhhiiiiii…sereeeem….., asli..!!!! :D
NB : Klw ada yang punya tips untuk menaklukkan ketiganya??? Mohon bantuannya, Please call me…. ^_^
Kotabumi, 27 September 2009 / 9 Syawal 1430 H
Pukul 16.27 a.m
Kamis, 24 September 2009
MUNGKIN HANYA SEKEDAR GORESAN…..
Pagi ini, keinginan itu begitu kuat..
Keinginan untuk kembali menorehkan sejuta rasa
Dalam ruangan, dengan dinding2 kamar menjadi saksi bisu keberadaan diri
Melalui tekanan-tekanan pada tombol2 lunak
Menatap layar mungil yang beberapa bulan ini setia menemani kesendirian
Beriringan dengan lagu ‘mellow’ yang diputar oleh Winamp
(tp gk bertahan lama coz jd krg konsentrasi, so dimati’in aja..he)
Memang paling nyaman menuangkan rasa lewat tulisan,
Ada kepuasan tersendiri ketimbang harus menceritakan semua kisah dengan orang lain
Bebas berekspresi, bebas berkreasi, bebas menuangkan apa saja keinginan hati..
Walau kata2 itu terkadang tersirat, hanya kau saja yang bisa mengerti…
Menuangkan sejuta rasa dalam kesendirian,
Tapi ditemani beribu-ribu kata yang membuat kau tak lagi merasa sendiri
Berselancar mengikuti arus pikirn dan kata..
Menciptakan korelasi antara hati, pikiran dan gerak jari…
Dia mengalir begitu saja..
Seperti saat ini…
Benar2 tidak ada yang terpaksa..
Ada kepuasan tersendiri, yang mungkin tak dapat dirasa oleh orang lain
Terlebih untuk orang yang tak pandai berkata dan bercerita seperti diri ini..
Introvert sangat introvert…..
Tapi sekarang kutemui ia melalui tulisan
Kini tak perlu lagi dipendam, karena ia bisa tercurah kapan saja ku mau..
Permainan kata2, ah mungkin ku tak pandai
Lagi-lagi hanya ingin menuangkan disaat tak ada teman yang paling setia di muka bumi
Disaat kau rasa orang lain tak perlu tau tentang dirimu dan apa yang kau rasa.
Maka tuangkanlah….
Tuangkanlah sejuta rasa, mimpi dan keinginanmu
Kurasa lebih baik begitu
Daripada di pendam,
membengkakkan kepala,
menggelembung,
membusuk
dan akhirnya tumpah tak berguna
Sayang bukan…karena setiap episode hidup kita terlalu berharga..
Kau bisa menangis, tersenyum, tertawa bersama beribu kata itu
Bebas….lagi-lagi bebas…
Menuangkan apa saja yang kau mau
Tanpa terpaksa dan tak perlu khawatir orang lain akan menertawakanmu
Kau tak perlu menyembunyikan air matamu,
Atau menutup mulut menahan tawamu..
Kau bisa melakukan apapun yang kau mau dengannya..
Ya…dengan berjuta kata itu…
Ah sudahlah, tak perlu banyak kata lagi…
Karena ku tak tahan lagi untuk menuangkan isi kepala dan hati
Saat ini…….disni…..
Kotabumi 4 Syawal 1430 H/24 September 2009
10.00 am
Keinginan untuk kembali menorehkan sejuta rasa
Dalam ruangan, dengan dinding2 kamar menjadi saksi bisu keberadaan diri
Melalui tekanan-tekanan pada tombol2 lunak
Menatap layar mungil yang beberapa bulan ini setia menemani kesendirian
Beriringan dengan lagu ‘mellow’ yang diputar oleh Winamp
(tp gk bertahan lama coz jd krg konsentrasi, so dimati’in aja..he)
Memang paling nyaman menuangkan rasa lewat tulisan,
Ada kepuasan tersendiri ketimbang harus menceritakan semua kisah dengan orang lain
Bebas berekspresi, bebas berkreasi, bebas menuangkan apa saja keinginan hati..
Walau kata2 itu terkadang tersirat, hanya kau saja yang bisa mengerti…
Menuangkan sejuta rasa dalam kesendirian,
Tapi ditemani beribu-ribu kata yang membuat kau tak lagi merasa sendiri
Berselancar mengikuti arus pikirn dan kata..
Menciptakan korelasi antara hati, pikiran dan gerak jari…
Dia mengalir begitu saja..
Seperti saat ini…
Benar2 tidak ada yang terpaksa..
Ada kepuasan tersendiri, yang mungkin tak dapat dirasa oleh orang lain
Terlebih untuk orang yang tak pandai berkata dan bercerita seperti diri ini..
Introvert sangat introvert…..
Tapi sekarang kutemui ia melalui tulisan
Kini tak perlu lagi dipendam, karena ia bisa tercurah kapan saja ku mau..
Permainan kata2, ah mungkin ku tak pandai
Lagi-lagi hanya ingin menuangkan disaat tak ada teman yang paling setia di muka bumi
Disaat kau rasa orang lain tak perlu tau tentang dirimu dan apa yang kau rasa.
Maka tuangkanlah….
Tuangkanlah sejuta rasa, mimpi dan keinginanmu
Kurasa lebih baik begitu
Daripada di pendam,
membengkakkan kepala,
menggelembung,
membusuk
dan akhirnya tumpah tak berguna
Sayang bukan…karena setiap episode hidup kita terlalu berharga..
Kau bisa menangis, tersenyum, tertawa bersama beribu kata itu
Bebas….lagi-lagi bebas…
Menuangkan apa saja yang kau mau
Tanpa terpaksa dan tak perlu khawatir orang lain akan menertawakanmu
Kau tak perlu menyembunyikan air matamu,
Atau menutup mulut menahan tawamu..
Kau bisa melakukan apapun yang kau mau dengannya..
Ya…dengan berjuta kata itu…
Ah sudahlah, tak perlu banyak kata lagi…
Karena ku tak tahan lagi untuk menuangkan isi kepala dan hati
Saat ini…….disni…..
Kotabumi 4 Syawal 1430 H/24 September 2009
10.00 am
Kamis, 17 September 2009
Selamat Tinggal Ramadhan….
Ramadhan hampir berlalu. Entah dia akan menjadi saksi yang meringankan kita atau malahan menjadi saksi yang memberatkan.
“Puasa dan Al-Qur'an akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa
berkata, 'Ya Rabbi, aku mencegahnya makanan dan syahwat, maka berilah aku syafaat
karenanya.' Al-Qur'an berkata, 'Aku mencegahnya tidur pada malam hari, maka
berilah aku syafaat karenanya'. Beliau bersabda, 'Maka keduanya diberi syafaat',”
(Diriwayatkan Ahmad)
Semoga Al-Qur'an dan puasa memintakan syafaat bagi kita pada hari kiamat kelak. Amin.
Waktu melatih diri hampir selesai. Masuklah kita kepada praktek sehari-hari. Mampukah kita mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi kita yang telah kita raih di Ramadhan? Apakah kita kembali lagi menjadi pecundang (loosers), orang yang kalah?
Jika kita kalah, bagaimana mengharapkan orang lain untuk menang?
Sedih rasanya melihat ketidak mampuan kita untuk mengenda diri. Kita lihat wakil-wakil rakyat yang berperilaku seperti anak-anak. Dimana hilangnya kesabaran kita? Kemana larinya kemampuan kita untuk melakukan puasa dan shalat lail? Ternyata kita hanya menjadi seorang Ramadhani saja, yaitu orang yang mengingat Allah kala Ramadhan saja. Dalam sebuah ceramahnya, Syaikh Al-Qardhawy mengatakan bahwa barangsiapa yang menyembah bulan Ramadhan, sesungguhnya bulan Ramadhan itu telah mati dan berlalu. Sementara Allah tidak pernah mati dan senantiasa hidup. Diantara orang salaf ada yang berkata:
“Seburuk-buruk orang ialah yang tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan.
Maka jadikanlah diri anda seorang Rabbani, dan jangan menjadi Ramadhani.”
Mudah-mudahan kita termasuk orang yang lebih baik dari itu. Mudah-mudahan Ramadhan ini membekas di hati kita dan kebiasaan-kebiasaan baik yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan ini menjadi tetap. Jika tidak 100% melekat, mungkin sekian persen saja. Mudah-mudahan kita masih diberi kesempatan untuk melakukan sekolah Ramadhan lagi di tahun depan. Dan mudah-mudahan kita dapat lebih baik lagi
“Puasa dan Al-Qur'an akan memberi syafaat bagi hamba pada hari kiamat. Puasa
berkata, 'Ya Rabbi, aku mencegahnya makanan dan syahwat, maka berilah aku syafaat
karenanya.' Al-Qur'an berkata, 'Aku mencegahnya tidur pada malam hari, maka
berilah aku syafaat karenanya'. Beliau bersabda, 'Maka keduanya diberi syafaat',”
(Diriwayatkan Ahmad)
Semoga Al-Qur'an dan puasa memintakan syafaat bagi kita pada hari kiamat kelak. Amin.
Waktu melatih diri hampir selesai. Masuklah kita kepada praktek sehari-hari. Mampukah kita mempertahankan bahkan meningkatkan prestasi kita yang telah kita raih di Ramadhan? Apakah kita kembali lagi menjadi pecundang (loosers), orang yang kalah?
Jika kita kalah, bagaimana mengharapkan orang lain untuk menang?
Sedih rasanya melihat ketidak mampuan kita untuk mengenda diri. Kita lihat wakil-wakil rakyat yang berperilaku seperti anak-anak. Dimana hilangnya kesabaran kita? Kemana larinya kemampuan kita untuk melakukan puasa dan shalat lail? Ternyata kita hanya menjadi seorang Ramadhani saja, yaitu orang yang mengingat Allah kala Ramadhan saja. Dalam sebuah ceramahnya, Syaikh Al-Qardhawy mengatakan bahwa barangsiapa yang menyembah bulan Ramadhan, sesungguhnya bulan Ramadhan itu telah mati dan berlalu. Sementara Allah tidak pernah mati dan senantiasa hidup. Diantara orang salaf ada yang berkata:
“Seburuk-buruk orang ialah yang tidak mengenal Allah kecuali pada bulan Ramadhan.
Maka jadikanlah diri anda seorang Rabbani, dan jangan menjadi Ramadhani.”
Mudah-mudahan kita termasuk orang yang lebih baik dari itu. Mudah-mudahan Ramadhan ini membekas di hati kita dan kebiasaan-kebiasaan baik yang telah kita lakukan di bulan Ramadhan ini menjadi tetap. Jika tidak 100% melekat, mungkin sekian persen saja. Mudah-mudahan kita masih diberi kesempatan untuk melakukan sekolah Ramadhan lagi di tahun depan. Dan mudah-mudahan kita dapat lebih baik lagi
Senin, 14 September 2009
Satu Bulan Penuh Arti...
Banyak kisah…terlalu banyak kisah untuk diceritakan dalam satu bulan terakhir…
Mobilitas Bandar Lampung-Kotabumi setiap hari Sabtu-Minggu yang kujalani menyiratkan berjuta hikmah dan warna dalam episode perjalanan hidup ini. Di dalam bus, di terminal, dalam angkot, ketika silaturahim dan menginap di rumah beberapa teman (**Nomaden^^). Disaat itulah tanpa sengaja (**tp ku yakin ini adalah skenario Allah untuk memberikan pelajaran berarti bagiku dalam hidup) ku memperhatikan sikap dan gerak-gerik orang2 yang ada di sana, belajar banyak dari beberapa kehidupan keluarga yang berbeda-beda, karakter2 yang memberikan pelajaran bagaimana ku harus bersikap, serta pribadi-pribadi yang unik dan kehidupan dunia yang sebenarnya… Semakin kusadar berjuta pelajaran terserak dimana-mana, hanya terkadang kita tak pandai mengambil dan menangkap itu semua..Semoga kita tetap bisa menjadi pembelajar sejati dalam kampus kehidupan ini..
Pengalaman adalah guru termahal dalam hidup..”Fa bi ayyi ala Irabbikuma tukadzibaan”..Aku merasa Allah begitu sayang padaku, skenario ini begitu indah, walau terkadang ku lupa untuk sekedar mengucapkan kata syukur... Kesempatan itu selalu ada untuk menjadi baik dan berbuat kebaikan.
Kotabumi, 15 September 2009/25 Ramadhan 1430 H
7:22 AM
Mobilitas Bandar Lampung-Kotabumi setiap hari Sabtu-Minggu yang kujalani menyiratkan berjuta hikmah dan warna dalam episode perjalanan hidup ini. Di dalam bus, di terminal, dalam angkot, ketika silaturahim dan menginap di rumah beberapa teman (**Nomaden^^). Disaat itulah tanpa sengaja (**tp ku yakin ini adalah skenario Allah untuk memberikan pelajaran berarti bagiku dalam hidup) ku memperhatikan sikap dan gerak-gerik orang2 yang ada di sana, belajar banyak dari beberapa kehidupan keluarga yang berbeda-beda, karakter2 yang memberikan pelajaran bagaimana ku harus bersikap, serta pribadi-pribadi yang unik dan kehidupan dunia yang sebenarnya… Semakin kusadar berjuta pelajaran terserak dimana-mana, hanya terkadang kita tak pandai mengambil dan menangkap itu semua..Semoga kita tetap bisa menjadi pembelajar sejati dalam kampus kehidupan ini..
Pengalaman adalah guru termahal dalam hidup..”Fa bi ayyi ala Irabbikuma tukadzibaan”..Aku merasa Allah begitu sayang padaku, skenario ini begitu indah, walau terkadang ku lupa untuk sekedar mengucapkan kata syukur... Kesempatan itu selalu ada untuk menjadi baik dan berbuat kebaikan.
Kotabumi, 15 September 2009/25 Ramadhan 1430 H
7:22 AM
JENUH
Belakangan apa yang kurasakan membuat gelisah tersendiri di hati..
Jenuh…kata-kata yang mungkin ingin ku hindari, tapi kini ku tak bisa menolaknya untuk menghampiri diri..
Aku pun tak tahu dan mungkin tak punya alasan kenapa ku harus jenuh dengan semua ini..hingga terlintas dalam pikiran dan akhirnya tertuang dalam sebuah kata “ Aku ingin mengundurkan diri dari organisasi ini..!”..Bukan ungkapan sesaat atau sekedar pelampiasan kekesalan tapi itulah yang kurasakan. Selama ini ku hanya ingin jujur pada diri sendiri….Sungguh semua kenyataan ini membuat ku jenuh..!
Entahlah mungkin karena ku terlalu cinta dengan organisasi ini (**ku malu jika harus bilang “bahwa ku cinta dengan dakwah ini”). Kurangnya respon dari yang lain sejak awal, tiada keseriusan dalam pengelolaan, alas an kesibukan personel yang ‘luar biasa’ yang membuat kesan semua ini hanya dijadikan sebagai tempat ‘mampir’ mengisi waktu luang, disinilah masalahnya..!!, dan kenyataan inilah yang membuat aku jenuh, tapi ku tak mampu mengungkapkan kpd mereka…(serta seabrek “alasan” lain yang terlalu pribadi untuk diungkapkan disini).
Mungkin semangat yang membara pada diri ini diawal2 kepengurusan kini tinggal kepingan2 kekecewaan, sebuah mimpi yang sudah di konsep bersama terasa tak ada artinya lagi, luluh lantak bersama kepingan semangat yang mulai padam..Bukankah sebuah bangunan itu akan kokoh apabila setiap tiang2 penyangga bersatu, kuat menopang bersama-sama???..Bisa dibayangkan apabila hanya satu atau dua tiang saja yang bersemangat menopang sedangkan yang lain lemah (*mungkin tepatnya ‘melemahkan diri’)..??, maka sang bangunan akan miring, dan lama-kelamaan sang tiang yang kokoh itupun akan berangsur lelah menahan beban itu sendiri..
Kembali ku bercermin pada diri sendiri….Mungkin ada niatan yang salah dalam diri, ‘kekecewaan’ dan ‘kejenuhan’ itu tidak akan muncul ketika Allah menjadi satu-satunya tujuan dalam setiap aktivitas. Wallahualam bi shawab, sampai kinipun ku masih berusaha meluruskan niat kembali, mencoba menyusun & merekatkan serpihan semangat itu, mengokohkan diri agar kata-kata itu jangan sampai tersampaikan…Sekali lagi kuingin bilang, mungkin karena ku terlalu cinta dengan organisasi ini (**aku masih terlalu malu pada Mu ya Rabb untuk bilang bahwa ku cinta dengan aktivitas dakwah Mu ini**)
Aktivitas ini yang menghubungkan kembali aku dengan saudara-saudara seperjuangan, yang menyimpan sejuta kenangan indah masa-masa perjuangan di kampus, yang sedikit banyak telah mendidik dan membesarkanku dalam aktivitas dakwah yang penuh warna, dan ukhuwah indah yang tak terlukiskan…Aaah…benar-benar ku terlalu cinta dengan ini semua, dan ini yang membuat ku tak ingin meninggalkannya…Dan semoga cinta ini membuat ku masih bisa bertahan, memberi kekuatan untuk menepis segala jenuh dan kekecewaan……
Ya Rabb ampuni hambamu ini, karena Engkau lebih tau apa yang ada di hati ini…Amiin.
Kotabumi, 15 September 2009/25 Ramadhan 1430 H
6:48 AM
Jenuh…kata-kata yang mungkin ingin ku hindari, tapi kini ku tak bisa menolaknya untuk menghampiri diri..
Aku pun tak tahu dan mungkin tak punya alasan kenapa ku harus jenuh dengan semua ini..hingga terlintas dalam pikiran dan akhirnya tertuang dalam sebuah kata “ Aku ingin mengundurkan diri dari organisasi ini..!”..Bukan ungkapan sesaat atau sekedar pelampiasan kekesalan tapi itulah yang kurasakan. Selama ini ku hanya ingin jujur pada diri sendiri….Sungguh semua kenyataan ini membuat ku jenuh..!
Entahlah mungkin karena ku terlalu cinta dengan organisasi ini (**ku malu jika harus bilang “bahwa ku cinta dengan dakwah ini”). Kurangnya respon dari yang lain sejak awal, tiada keseriusan dalam pengelolaan, alas an kesibukan personel yang ‘luar biasa’ yang membuat kesan semua ini hanya dijadikan sebagai tempat ‘mampir’ mengisi waktu luang, disinilah masalahnya..!!, dan kenyataan inilah yang membuat aku jenuh, tapi ku tak mampu mengungkapkan kpd mereka…(serta seabrek “alasan” lain yang terlalu pribadi untuk diungkapkan disini).
Mungkin semangat yang membara pada diri ini diawal2 kepengurusan kini tinggal kepingan2 kekecewaan, sebuah mimpi yang sudah di konsep bersama terasa tak ada artinya lagi, luluh lantak bersama kepingan semangat yang mulai padam..Bukankah sebuah bangunan itu akan kokoh apabila setiap tiang2 penyangga bersatu, kuat menopang bersama-sama???..Bisa dibayangkan apabila hanya satu atau dua tiang saja yang bersemangat menopang sedangkan yang lain lemah (*mungkin tepatnya ‘melemahkan diri’)..??, maka sang bangunan akan miring, dan lama-kelamaan sang tiang yang kokoh itupun akan berangsur lelah menahan beban itu sendiri..
Kembali ku bercermin pada diri sendiri….Mungkin ada niatan yang salah dalam diri, ‘kekecewaan’ dan ‘kejenuhan’ itu tidak akan muncul ketika Allah menjadi satu-satunya tujuan dalam setiap aktivitas. Wallahualam bi shawab, sampai kinipun ku masih berusaha meluruskan niat kembali, mencoba menyusun & merekatkan serpihan semangat itu, mengokohkan diri agar kata-kata itu jangan sampai tersampaikan…Sekali lagi kuingin bilang, mungkin karena ku terlalu cinta dengan organisasi ini (**aku masih terlalu malu pada Mu ya Rabb untuk bilang bahwa ku cinta dengan aktivitas dakwah Mu ini**)
Aktivitas ini yang menghubungkan kembali aku dengan saudara-saudara seperjuangan, yang menyimpan sejuta kenangan indah masa-masa perjuangan di kampus, yang sedikit banyak telah mendidik dan membesarkanku dalam aktivitas dakwah yang penuh warna, dan ukhuwah indah yang tak terlukiskan…Aaah…benar-benar ku terlalu cinta dengan ini semua, dan ini yang membuat ku tak ingin meninggalkannya…Dan semoga cinta ini membuat ku masih bisa bertahan, memberi kekuatan untuk menepis segala jenuh dan kekecewaan……
Ya Rabb ampuni hambamu ini, karena Engkau lebih tau apa yang ada di hati ini…Amiin.
Kotabumi, 15 September 2009/25 Ramadhan 1430 H
6:48 AM
Rabu, 02 September 2009
My First Bisnis
Sebenaranya bukan bisnis yang pertama sih...sebelumnya juga sudah pernah mencba untuk memulai, walaupun ternyata di tengah jalan berhenti...Atau sering pula keinginan bisnis itu hanya sampai pada tahap konsep..hhe..
My First Bisnis...yah, inilah pertama kali kuingin serius dalam memulai bisnis..Bukan profit yang dicari tapi pembelajaran, mental seorang pengusaha itu yang ingin ku cari...Dengan niatan mulia...Bismillahirrohmaniirohim..ku memulai...Ya Allah mudahkanlah.....amiin...
My Dreamland^^
Setelah baca beberpa kisah orang-orang sukses, rata-rata menyebutkan bahwa impian itu harus digambarkan...Harus punya target waktu pencapaian...Lalu ku coba mendeskripsikan, walaupun mungkin gambar ini belum mampu mewakili begitu banyak impian dan harapan yang ingin kuraih dalam hidup ini...Sebuah impian duniawi yang harus bisa menghantarkan menuju kebahagiaan ukhrawi...Itulah impian yang sejati...Biiznillah...Semua atas campur tangan Mu ya Rabb...
BERJUTA HIKMAH DALAM 20 MENIT PENANTIAN
Setelah memesan tiket aku langsung beranjak masuk ke dalam bus yang masih ‘ngetem’ menunggu penumpang yang lain. Biasanya setelah memesan tiket aku pasti menyempatkan diri untuk duduk di deretan kursi panjang di ruang tunggu ‘Pool’ ini, sekedar memperhatikan lalu lalang, hilir mudik orang yang datang dan pergi. Selama hampir 5 tahun bolak-balik B.Lampung-Kotabumi aku tidak prnah berfikir untuk pindah berlangganan bus dari pool ini. Entahlah mungkin karena sudah terbiasa dan merasa nyaman dengan bus AC yang satu ini, jadi tidak berniat untuk pindah ke lain hati.
Tapi hari ini tubuh terasa sangat lelah untuk sekedar memperhatikan dan duduk di deretan kursi panjang ini, lalu kuputuskan segera masuk dalam bus dengan harapan aku dapat beristirahat sejenak di dalam bus yang ‘adem’ ini smbil menikmati tayangan TV yang di suguhkan didalamnya.
Rabb, mengapa tubuh ini terasa sangat lelah…Mungkin bukan hanya karena aktivitas yang padat hari ini tapi karena beban fikiran yang juga sedang membelenggu. Kusandarkan punggung dan meluruskan kaki dibawah jok kursi. Aaah, alhamdulillah sejenak kurasakan kenyamanan menyelimuti tubuh ini..Ku coba menambah kenyaman itu dengan menikmati tayangan TV yang terus berputar, sebuah acara kuis tebak judul lagu dan melanjutkan syair. Beberapa menit mataku tak beranjak dari layar itu..Mencoba menikmati…
5 menit penatian…
Kulirik jam tanganku. Kenapa blm berangkat juga ya?. Aku juga masih duduk sendiri. Bus tampak sepi, mungkin karena hari ini bukanlah hari libur jadi sedikit orang yang bepergian ke luar kota. Menunggu, hal yang paling membosankan dalam hidup! ..Ku lempar pandangan keluar dibalik kaca jendela (* tempat favorit ku dalam mobil yaitu didekat jendela, karena dengan duduk disana aku bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan di sepanjang perjalanan..dan tentunya tidak akan membuat ku bosan)..Sebuah pemandangan ‘riweh’ terminal yang ramai yang ada di pandanganku saat ini..Orang-orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing..
Bus ini diparkir menghadap sebuah rumah makan yang berada di seberang ‘pool’ ini. Aku duduk di bagian kanan dekat jendela di barisan kedua dibelakang sopir. Kembali kulempar pandangan ke luar jendela dengan kelelahan pikiran & fisik yang masih saja membelai…Bus ini berada di sebelah sebuah aliran air yang terdapat di terminal ini. Kondisi air ini tidak pernah berubah…Kotor, berwarna dan sampah..Beberapa enceng gondok turut menghiasi dengan hijaunya..Pasti tak ada ikan yang mau hidup di air itu atau mungkin hanya nyamuk yang mau tinggal disana. Ku alihkan pandangan ke seorang ibu yang sedang ’dikejar-kejar’ oleh tukang ojek.. Beberapa kali ibu ini menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya kepada tukang ojek itu, tapi tetap saja tukang ojek itu mengikutinya..Sampai ibu itu memasang wajah marah dan berkata sesuatu kepada si tukang ojek itu barulah tukang ojek itu menggiring motornya meninggalkan sang ibu... Hmm, bisa kutebak apa yang di katakan oleh ibu itu…Aku tersenyum,, lagian maksa sih…syukurin kena omel ama tuh ibu…hhe..
Masih dengan tatapan dibalik jendela…Kosong…sedangkan pikiran ku sedang melanglang buana entah kemana..Begitu banyak hal yang sedang mengganggu pikiran.. Kekecewaan yang memaksa untuk segera mengambil keputusan. Kekecewaan yang menyebabkan ketidaknyamanan hadir dalam kerja-kerja dakwah yang sedang ku pikul saat ini serta kebingungan untuk melampiaskan kekecewaan ini pada siapa. Sebuah kejujuran hati itu yang ingin kucoba selalu hadirkan pada diri ini..Aku tidak bisa membohongi diri sendiri..Aku belum bisa menerima kesalahn2 itu, walaupun mungkin dahulu aku juga pernah hampir melakukan kesalahan yang sama. Tapi kenyataan2 yang baru kutemui ini sungguh telah menambah kekecewaan2 baru. Kemudian ku teringat kembali sebuah pesan dari seorang sahabat hasil diskusi panjangku dengannya semalam..”Ingatkah…pernah suatu hari almarhum Ustad Rahmad Abdullah datang kepada sekumpulan para aktvis dakwah dengan muka marah kemudian menggebrak meja dengan sangat keras dan berkata “Janganlah karena maksiat2 yang antum lakukan dan antum anggap kecil ini kemudian menjadi penyebab bobrok/rusaknya tatanan dakwah yang telah dengan susah payah dibangun oleh para pendahulu kita..?!”..Sebuah ketidaknyamanan yang sangat dirasakan oleh Ustad Rahmad Abdullah yang dianggapnya sangat mengancam berlangsungnya perjuangan dakwah ini… Tapi apakah lantaran dengan kekecewaan/ketidaknyamanan itu kemudian ustad Rahmad Abdullah meninggalkan mereka dan dakwah ini??, jawabannya adalah TIDAK..!!”…Aku kembali terpekur…hati kecilku kembali membela diri…’Toh aku bukanlah seorang ustad Rahmad Abdullah, jauh….jauuuh sangat..!!.. Aku hanya seorang insan yang juga memiliki banyak kesalahan, namun lantaran Allah masih menutupi aib2 ini dengan kasih sayangNya, sehingga aku masih bisa bernafas dengan lega…Aah entahlah, mungkin aku hanya butuh waktu untuk mengkondisikan diri dari berita2 yang baru kudengar belakangan ini.. Berita yang membuatku tidak lagi nyaman bekerja di dalam kumpulan orang2 yang ada di dalamnya.
Lain hal dengan ini…Kembali terdengar kata-kata itu jelas hinggap di telingaku..Beberapa fitnah yang hadir akibat ke ‘eksis’an keberadaan diriku pada salah satu layanan jejaring sosial.. Aaaaaaahh, ingin sekali rasanya ku menjerit, aku sungguh lelah, lelah mendengar semua itu…Ternyata jamaah ini belum cukup memberikan arti ukhuwah pada diriku..Ku sadar jamaah ini bukan lah jamaah malaikat, tetap saja jamaahnya para manusia. Tapi Rabb, Ghibah, fitnah, sungguh sangat menyakitkan…!. Bukan hanya tentang diriku…..Ku dengar, kulihat, ku amati di sekitarku, banyak sekali yang masih membicarakan keburukan saudaranya yang lain, entah berita itu benar atau salah.. Kemudian ku teringat sebuah kalimat yang pernah dikatakan seorang ‘guru’ ketika di awal2 aku belajar di kampus ini… ‘Cari seribu satu’alasan untuk tetap bisa berhusnudzon dengan saudara kita yang lain…Sungguh terdengar begitu indah bukan??... Hati kecilku bicara, seandainya mereka tau betapa kesendirian ini sangat membelenggu dan untuk saat ini hanya dengan itu ku bisa menghibur diri dari kesendirianku..Untuk saat ini hanya dengan itu ‘pencerahan2’ itu kudapat, untuk saat ini hanya dengan itu silaturahim terjalin, dan untuk saat ini hanya dengan itu diskusi2 itu tertuang..Lalu apakah aku salah???? …Ya Rabb, sungguh hanya Engkau yang maha mengetahui.. Ku berlindung kepadaMu dari keburukan sikap dan tingkah laku serta kata2 ini.. Sebuah doa andalan Abu Bakar As-Shiddiq begitu indah aku kumandangkan saat itu “ Ya Allah ampunilah aku tentang apa yang tidak mereka ketahui tentang diriku… Ya Allah jadikanlah hamba lebih baik dari apa yang mereka duga tentang diriku”. Beberapa tetes air bening jatuh menghantarkan doa ini…….Segera kusambut dengan tangan, kuhapus. malu bila ada yang melihat……Hhhuuuffff….Ku hela nafas cukup panjang… Ku paksa diriku untuk merasakan kembali kenyamanan beristirahat..
10 menit penantian…
Kulempar pandanganku kembali keluar jendela…Kucoba menyatukan mata, hati dan pikiran untuk hadir bersama.. Sebuah kesadaran yang sempurna..
Masih dengan suasana keramaian terminal yang kurang kusuka..Beberapa mobil angkot berhenti, menaikkan penumpang, kemudian berangkat…digantikan dengan angkot yang lain yang melakukan sesuatu yang sama..begitu seterusnya…..
Pandangan ku beralih menatap dari kejauhan seorang nenek tua dengan buntelan kain yang ia sangkutkan di bawah lengan kirinya…Tangan kanannya memegang sebuah mangkok kecil berwarna hijau yang ia sodorkan ke beberapa orang yang ia hampiri..Pakaiannya begitu lusuh, kebaya yang ia kenakan kusam berwarna coklat. bagian kaki yang tidak tertutupi kain panjangnya terlihat jelas kerutan2nya..Kulit itu begitu kering, mungkin karena terlalu akrab berteman dengan sinar matahari. Beberapa orang memasukkan koin2 kecil dalam mangkoknya, namun ada pula dengan wajah tidak suka langsung melambaikan tangannya ketika si nenek baru akan melangkah mendekatinya…Ku menatap dengan iba dari kejauhan, mencoba mengikuti setiap langkah ringkih kakinya..Kemanakah anak2nya, atau mungkin para cucunya? Sehingga membiarkan nenek dengan usia tuanya ini melangkah sendiri di tengah suasana panas terminal yang ganas. Ku jadi teringat sebuah acara berita di salah satu stasiun TV beberapa hari lalu yang membahas tntang Fatwa MUI yang mengharamkan mengemis, disana sang reporter menunjukkan sebuah rumah cukup bagus dengan lantai keramik dan pintu ukiran, sbuah bangunan baru tampaknya, kemudian sang reporter berkata “Siapa yang menyangka rumah yang ada di belakang saya ini adalah rumah dari seorang pengemis”..Weeww, hebat juga tuh pengemis bisa bangun rumah setara dengan rumahnya para PNS pikirku saat itu…^^, kemudian sang reporter kembali melaporkan hasil beberapa survey dari jumlah penghasilan para pengemis “Tahukah Anda para pengemis bisa berpenghasilan Rp.3-6 juta per bulannya, dan penghasilan mencapai puncaknya pada bulan Ramdhan hingga Hari Raya bisa mencapai Rp.10 juta per bulan..Wuuuiiih…keren kan??.. Bener2 ngalahin gaji PNS..!!. Tapi kalau melihat nenek tadi rasanya berbeda nasib dengan cerita itu…Wallahualam..Rabb, beliau hambamu, tidak ada satupun makhluk yang luput dari perhatianmu, maka lindungilah dan berikanlah yang terbaik kepada nenek itu…amiin..
15 menit penantian…
Look who’s there..!! Hatiku berseru…Seorang anak kecil…hmm mungkin kuperkirakan umurnya sekitar 7-8 tahun, beralas sandal jepit warna hijau, memakai kaos lusuh berwarna merah dengan celana panjang selutut menyita perhatianku kemudian… Sebenarnya sejak ku melempar pandangan ke luar jendela sejak tadi pula kulihat anak itu, tapi dia luput dari perhatianku…Ku kira dia hanyalah seorang anak kecil peminta-minta yang memang biasa mangkal di daerah ini…Tapi ternyata dia berbeda..!.
Ku perhatikan gerak-geriknya.. Kini ia bersandar pada salah satu tiang yang turut mengokohkan bangunan itu.. Ia menatap ke depan dan memegang erat tas kecil yang sejak tadi ia sangkutkan di pundaknya..Tak lama kemudian melintas sebuah mobil angkot berwarna coklat susu dan berhenti di depannya. Aku tak melihat anak itu lagi karena tubuhnya yang kecil tertutupi oleh badan angkot. Sopir angkot turun kemudian melambaikan tangan memanggil seseorang… Gerak langkah kaki kecil nan lincah dengan senyum kemudian menghampiri. Ooh ternyata yang dipanggil adalah anak kecil yang ku perhatikan tadi..Sang sopir angkot memegang pundak sang anak, sambil tangan yang satunya lagi menunjuk ke arah bagian dalam mobilnya..tampak seperti sedang memberikan instruksi kepada sang anak ini. Anak itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, tanda mengerti mungkin.. Setelah itu sang anak membuka tasnya dan mengeluarkan sapu kecil tanpa gagang dari dalam tasnya yang ia pegang erat sejak tadi..kemudian masuk ke dalam mobil angkot itu.. Masih terlihat dari balik kaca gerak-geriknya…Ia membongkok-bongkokkan badannya mengais kolong-kolong jok penumpang dalam angkot dengan sapunya. Kemudian sekali-kali mengusap bagian atas jok itu dengan bajunya..Ia terus mengais-ngais dengan sapunya hingga sampai pada bagian pintu angkot itu.. Setelah selesai kemudian ia menghampiri sang sopir angkot yang sejak tadi sedang asyik ngobrol dengan sopir angkot yang lain. Sang sopir merogoh kantung bajunya dan mengeluarkan 1 keping uang koin limaratusan kemudian menyerahkn kepada anak itu. Anak itu menyambut dengan senyumnya. Kemudian ia segera berlari menghampiri angkot yang baru saja tiba dan di parkir tepat di belakang angkot yang ia sapu tadi, ia melakukan hal yang sama, mengeluarkan sapunya dan masuk ke dalam angkot dengan gerak-gerik yang sama, mengais2 debu dengan sapu kecil tanpa gagangnya..
Ku perhatikan hingga mobil angkot yang ketiga…Ia melakukan hal yang sama dan para sopir itupun memberikan sekeping uang yang sama.. satu keping uang limaratus rupiah..!. Mataku berkaca-kaca melihat itu semua, terharu, iba, bangga,..Subhanallah…anak itu hanyalah seorang tukang sapu angkot, di usia nya yang sekecil itu ia pasti telah mengerti arti kehidupan yang sebenarnya..Masih terlalu dini baginya untuk merasakan kerasnya hidup. Ia masih kecil tapi telah mampu makan dengan keringatnya sendiri. Masa indah kanak-kanaknya mungkin telah tenggelam diseret arus gelombang kehidupan. Dimataku saat itu ia adalah seorang ‘pahlawan’ kecil kehidupan..Yang mampu menyelamatkan diri dan bertahan dari ganasnya dunia nyata. Saat ia memutuskan untuk menjadi seorang tukang sapu angkot ketimbang meminta-minta seperti banyak anak seusianya di terminal ini sungguh ia telah menjadi pahlawan kecil kehidupan..!!. Sebuah cermin yang membuatku sangat malu menatap bayangan diriku sendiri… malu….sangat malu…
20 menit penantian…
Ku kembali melirik jam yang melingkari pergelangan tanganku.. Ya Allah sudah hampir 20 menit aku menunggu dalam bus ini…Tanpa sadar ternyata sudah cukup banyak yang mengisi bangku-bangku yang sejak tadi kosong.. Seorang ibu (seusia mama) kemudian menghampiriku, ia melihat tiketnya dan mencocokkan dengan nomor kursi “ini no 7 ya nak?” tanyanya kepadaku. Aku mengangguk “iya bu” sambutku dengan senyum (*Aku duduk di kursi no 8). Kubantu ibu itu meletakkan bungkusan plastik hitam besar miliknya di bawah jok mobil tepat disebelah kakiku.. Ia tersenyum kemudian duduk di sebelahku..”Alhamdulillah” lirihnya..Aku tersenyum, kemudian kembali menatap keluar dibalik jendela kaca ini..Aah, masih pemandangan yang sama, aku lelah….sangat lelah…Aku pejamkan mata beberapa detik, untuk kembali mengumpulkan tenaga dan kesadaran yang sejak tadi membawaku mengembara. Kubuka mata kemudian ku hela nafas panjang… Hhhuufff… Kurasakan relung-relung damai mulai menghampiri kembali…Ku coba tersenyum pada diriku sendiri…Sebuah senyum optimis untuk menghadapi semua tantangan yang ada di depanku saat ini… Tantangan kehidupan…..
Teguran petugas penarik retribusi terminal menyadarkanku dari ‘duniaku’ sendiri.. Segera ke buka tas ku dan kuambil satu keping uang limaratus rupiah..Ku lihat ibu yang duduk di sebelahku, ia tampak sibuk membongkar tasnya mencari uang kecil tampaknya..Kurogoh kembali tasku, ku tukar uang limaratus dengan satu lembar uang seribu dari dalam tasku..Kemudian kuserahkan kepada petugas retribusi itu, seraya berkata kepada ibu disebelah ku “Pake ini aja bu” kataku…Ibu itu tersenyum ‘Ooh ya, makasih ya… Ibu lagi gak ada duit kecil” katanya sambil tersenyum kepadaku.. “Iya bu” balasku dengan senyum juga..
Setelah itu terjadi obrolan antara aku dan ibu itu...Obrolan ‘perkenalan’ mungkin tepatnya..
Suara mesin mobil menghentikan obrolan kami “Alhamdulillah” desisku…”akhirnya bus ini berangkat juga”…Kembali kulirik jam, Ya Rabb, ternyata 20 menit persis aku menunggu dalam bus ini. Bus mulai bergerak, putaran-putaran roda mulai kurasakan. Bismillahirrahmanirrohim…Bismillahitawakaltu Allallahi lahawlawala quwwata illah billah…
Kulemparkan kembali pandangan dari balik kaca jendela… Masih berupa pemandangan yang sama, pemandangan terminal Rajabasa yang ramai dan sibuk. Ramai dengan para manusia yang mengejar perputaran waktu..Tapi kini pemandangan itu sedikit berbeda, kini ia bergerak, berubah dan berganti mengikuti irama perputaran roda bus yang mulai berlari meninggalkan sisa-sisa jejak yang tergores dalam tapak-tapak bumi, tanpa perduli bahwa jejak itu akan terhapus dan tergantikan dengan jejak-jejak baru…
Kulafazkan lirih “Fabiayyi ala irabbikuma tukadzibaan”…Sungguh tidak ada satu nikmat-Mu pun yang pantas hamba dustakan ya Rabb…Ampuni hamba atas segala keluhan yang tak pantas karena begitu banyak nikmat yang Kau berikan kepada hamba…Jadikanlah hamba seorang pembelajar sejati yang mampu mengambil hikmah dari setiap detik, menit dan jam yang telah dilewati, untuk semakin baik dalam setiap detik, menit dan jam yang akan dihadapi..Amin ya Rabbal aamin..
Semakin lama roda itu kurasa semakin cepat berputar, tapi aku hanya diam disini.. Mencoba mengikuti irama putarannya dan membiarkan ia membawaku mengikutinya.. Tapi aku tidak boleh diam terlalu lama, aku juga akan turut menorehkan jejak diatas tapak-tapak bumi ini. Sebuah jejak penuh makna, tanpa harus takut dan khawatir dengan jejak-jejak lain yang akan menutupinya. Karena jejak adalah sebuah sejarah, walaupun mungkin sejarah itu hanya akan dinikmati sendiri, tapi kuyakin bumi tidak akan mengahapus jejaknya, ia tetap akan merasakan sisa dari jejak-jejak itu dan akan mencatatnya sebagai bagian dari sejarah dirinya…..
Earthcity, 1 September 2009/ 11 Ramadhan 1430H
Pukul 23.25 WIB
Tapi hari ini tubuh terasa sangat lelah untuk sekedar memperhatikan dan duduk di deretan kursi panjang ini, lalu kuputuskan segera masuk dalam bus dengan harapan aku dapat beristirahat sejenak di dalam bus yang ‘adem’ ini smbil menikmati tayangan TV yang di suguhkan didalamnya.
Rabb, mengapa tubuh ini terasa sangat lelah…Mungkin bukan hanya karena aktivitas yang padat hari ini tapi karena beban fikiran yang juga sedang membelenggu. Kusandarkan punggung dan meluruskan kaki dibawah jok kursi. Aaah, alhamdulillah sejenak kurasakan kenyamanan menyelimuti tubuh ini..Ku coba menambah kenyaman itu dengan menikmati tayangan TV yang terus berputar, sebuah acara kuis tebak judul lagu dan melanjutkan syair. Beberapa menit mataku tak beranjak dari layar itu..Mencoba menikmati…
5 menit penatian…
Kulirik jam tanganku. Kenapa blm berangkat juga ya?. Aku juga masih duduk sendiri. Bus tampak sepi, mungkin karena hari ini bukanlah hari libur jadi sedikit orang yang bepergian ke luar kota. Menunggu, hal yang paling membosankan dalam hidup! ..Ku lempar pandangan keluar dibalik kaca jendela (* tempat favorit ku dalam mobil yaitu didekat jendela, karena dengan duduk disana aku bisa menikmati pemandangan yang disuguhkan di sepanjang perjalanan..dan tentunya tidak akan membuat ku bosan)..Sebuah pemandangan ‘riweh’ terminal yang ramai yang ada di pandanganku saat ini..Orang-orang yang sibuk dengan aktivitasnya masing-masing..
Bus ini diparkir menghadap sebuah rumah makan yang berada di seberang ‘pool’ ini. Aku duduk di bagian kanan dekat jendela di barisan kedua dibelakang sopir. Kembali kulempar pandangan ke luar jendela dengan kelelahan pikiran & fisik yang masih saja membelai…Bus ini berada di sebelah sebuah aliran air yang terdapat di terminal ini. Kondisi air ini tidak pernah berubah…Kotor, berwarna dan sampah..Beberapa enceng gondok turut menghiasi dengan hijaunya..Pasti tak ada ikan yang mau hidup di air itu atau mungkin hanya nyamuk yang mau tinggal disana. Ku alihkan pandangan ke seorang ibu yang sedang ’dikejar-kejar’ oleh tukang ojek.. Beberapa kali ibu ini menggelengkan kepalanya dan melambaikan tangannya kepada tukang ojek itu, tapi tetap saja tukang ojek itu mengikutinya..Sampai ibu itu memasang wajah marah dan berkata sesuatu kepada si tukang ojek itu barulah tukang ojek itu menggiring motornya meninggalkan sang ibu... Hmm, bisa kutebak apa yang di katakan oleh ibu itu…Aku tersenyum,, lagian maksa sih…syukurin kena omel ama tuh ibu…hhe..
Masih dengan tatapan dibalik jendela…Kosong…sedangkan pikiran ku sedang melanglang buana entah kemana..Begitu banyak hal yang sedang mengganggu pikiran.. Kekecewaan yang memaksa untuk segera mengambil keputusan. Kekecewaan yang menyebabkan ketidaknyamanan hadir dalam kerja-kerja dakwah yang sedang ku pikul saat ini serta kebingungan untuk melampiaskan kekecewaan ini pada siapa. Sebuah kejujuran hati itu yang ingin kucoba selalu hadirkan pada diri ini..Aku tidak bisa membohongi diri sendiri..Aku belum bisa menerima kesalahn2 itu, walaupun mungkin dahulu aku juga pernah hampir melakukan kesalahan yang sama. Tapi kenyataan2 yang baru kutemui ini sungguh telah menambah kekecewaan2 baru. Kemudian ku teringat kembali sebuah pesan dari seorang sahabat hasil diskusi panjangku dengannya semalam..”Ingatkah…pernah suatu hari almarhum Ustad Rahmad Abdullah datang kepada sekumpulan para aktvis dakwah dengan muka marah kemudian menggebrak meja dengan sangat keras dan berkata “Janganlah karena maksiat2 yang antum lakukan dan antum anggap kecil ini kemudian menjadi penyebab bobrok/rusaknya tatanan dakwah yang telah dengan susah payah dibangun oleh para pendahulu kita..?!”..Sebuah ketidaknyamanan yang sangat dirasakan oleh Ustad Rahmad Abdullah yang dianggapnya sangat mengancam berlangsungnya perjuangan dakwah ini… Tapi apakah lantaran dengan kekecewaan/ketidaknyamanan itu kemudian ustad Rahmad Abdullah meninggalkan mereka dan dakwah ini??, jawabannya adalah TIDAK..!!”…Aku kembali terpekur…hati kecilku kembali membela diri…’Toh aku bukanlah seorang ustad Rahmad Abdullah, jauh….jauuuh sangat..!!.. Aku hanya seorang insan yang juga memiliki banyak kesalahan, namun lantaran Allah masih menutupi aib2 ini dengan kasih sayangNya, sehingga aku masih bisa bernafas dengan lega…Aah entahlah, mungkin aku hanya butuh waktu untuk mengkondisikan diri dari berita2 yang baru kudengar belakangan ini.. Berita yang membuatku tidak lagi nyaman bekerja di dalam kumpulan orang2 yang ada di dalamnya.
Lain hal dengan ini…Kembali terdengar kata-kata itu jelas hinggap di telingaku..Beberapa fitnah yang hadir akibat ke ‘eksis’an keberadaan diriku pada salah satu layanan jejaring sosial.. Aaaaaaahh, ingin sekali rasanya ku menjerit, aku sungguh lelah, lelah mendengar semua itu…Ternyata jamaah ini belum cukup memberikan arti ukhuwah pada diriku..Ku sadar jamaah ini bukan lah jamaah malaikat, tetap saja jamaahnya para manusia. Tapi Rabb, Ghibah, fitnah, sungguh sangat menyakitkan…!. Bukan hanya tentang diriku…..Ku dengar, kulihat, ku amati di sekitarku, banyak sekali yang masih membicarakan keburukan saudaranya yang lain, entah berita itu benar atau salah.. Kemudian ku teringat sebuah kalimat yang pernah dikatakan seorang ‘guru’ ketika di awal2 aku belajar di kampus ini… ‘Cari seribu satu’alasan untuk tetap bisa berhusnudzon dengan saudara kita yang lain…Sungguh terdengar begitu indah bukan??... Hati kecilku bicara, seandainya mereka tau betapa kesendirian ini sangat membelenggu dan untuk saat ini hanya dengan itu ku bisa menghibur diri dari kesendirianku..Untuk saat ini hanya dengan itu ‘pencerahan2’ itu kudapat, untuk saat ini hanya dengan itu silaturahim terjalin, dan untuk saat ini hanya dengan itu diskusi2 itu tertuang..Lalu apakah aku salah???? …Ya Rabb, sungguh hanya Engkau yang maha mengetahui.. Ku berlindung kepadaMu dari keburukan sikap dan tingkah laku serta kata2 ini.. Sebuah doa andalan Abu Bakar As-Shiddiq begitu indah aku kumandangkan saat itu “ Ya Allah ampunilah aku tentang apa yang tidak mereka ketahui tentang diriku… Ya Allah jadikanlah hamba lebih baik dari apa yang mereka duga tentang diriku”. Beberapa tetes air bening jatuh menghantarkan doa ini…….Segera kusambut dengan tangan, kuhapus. malu bila ada yang melihat……Hhhuuuffff….Ku hela nafas cukup panjang… Ku paksa diriku untuk merasakan kembali kenyamanan beristirahat..
10 menit penantian…
Kulempar pandanganku kembali keluar jendela…Kucoba menyatukan mata, hati dan pikiran untuk hadir bersama.. Sebuah kesadaran yang sempurna..
Masih dengan suasana keramaian terminal yang kurang kusuka..Beberapa mobil angkot berhenti, menaikkan penumpang, kemudian berangkat…digantikan dengan angkot yang lain yang melakukan sesuatu yang sama..begitu seterusnya…..
Pandangan ku beralih menatap dari kejauhan seorang nenek tua dengan buntelan kain yang ia sangkutkan di bawah lengan kirinya…Tangan kanannya memegang sebuah mangkok kecil berwarna hijau yang ia sodorkan ke beberapa orang yang ia hampiri..Pakaiannya begitu lusuh, kebaya yang ia kenakan kusam berwarna coklat. bagian kaki yang tidak tertutupi kain panjangnya terlihat jelas kerutan2nya..Kulit itu begitu kering, mungkin karena terlalu akrab berteman dengan sinar matahari. Beberapa orang memasukkan koin2 kecil dalam mangkoknya, namun ada pula dengan wajah tidak suka langsung melambaikan tangannya ketika si nenek baru akan melangkah mendekatinya…Ku menatap dengan iba dari kejauhan, mencoba mengikuti setiap langkah ringkih kakinya..Kemanakah anak2nya, atau mungkin para cucunya? Sehingga membiarkan nenek dengan usia tuanya ini melangkah sendiri di tengah suasana panas terminal yang ganas. Ku jadi teringat sebuah acara berita di salah satu stasiun TV beberapa hari lalu yang membahas tntang Fatwa MUI yang mengharamkan mengemis, disana sang reporter menunjukkan sebuah rumah cukup bagus dengan lantai keramik dan pintu ukiran, sbuah bangunan baru tampaknya, kemudian sang reporter berkata “Siapa yang menyangka rumah yang ada di belakang saya ini adalah rumah dari seorang pengemis”..Weeww, hebat juga tuh pengemis bisa bangun rumah setara dengan rumahnya para PNS pikirku saat itu…^^, kemudian sang reporter kembali melaporkan hasil beberapa survey dari jumlah penghasilan para pengemis “Tahukah Anda para pengemis bisa berpenghasilan Rp.3-6 juta per bulannya, dan penghasilan mencapai puncaknya pada bulan Ramdhan hingga Hari Raya bisa mencapai Rp.10 juta per bulan..Wuuuiiih…keren kan??.. Bener2 ngalahin gaji PNS..!!. Tapi kalau melihat nenek tadi rasanya berbeda nasib dengan cerita itu…Wallahualam..Rabb, beliau hambamu, tidak ada satupun makhluk yang luput dari perhatianmu, maka lindungilah dan berikanlah yang terbaik kepada nenek itu…amiin..
15 menit penantian…
Look who’s there..!! Hatiku berseru…Seorang anak kecil…hmm mungkin kuperkirakan umurnya sekitar 7-8 tahun, beralas sandal jepit warna hijau, memakai kaos lusuh berwarna merah dengan celana panjang selutut menyita perhatianku kemudian… Sebenarnya sejak ku melempar pandangan ke luar jendela sejak tadi pula kulihat anak itu, tapi dia luput dari perhatianku…Ku kira dia hanyalah seorang anak kecil peminta-minta yang memang biasa mangkal di daerah ini…Tapi ternyata dia berbeda..!.
Ku perhatikan gerak-geriknya.. Kini ia bersandar pada salah satu tiang yang turut mengokohkan bangunan itu.. Ia menatap ke depan dan memegang erat tas kecil yang sejak tadi ia sangkutkan di pundaknya..Tak lama kemudian melintas sebuah mobil angkot berwarna coklat susu dan berhenti di depannya. Aku tak melihat anak itu lagi karena tubuhnya yang kecil tertutupi oleh badan angkot. Sopir angkot turun kemudian melambaikan tangan memanggil seseorang… Gerak langkah kaki kecil nan lincah dengan senyum kemudian menghampiri. Ooh ternyata yang dipanggil adalah anak kecil yang ku perhatikan tadi..Sang sopir angkot memegang pundak sang anak, sambil tangan yang satunya lagi menunjuk ke arah bagian dalam mobilnya..tampak seperti sedang memberikan instruksi kepada sang anak ini. Anak itu hanya mengangguk-anggukkan kepalanya beberapa kali, tanda mengerti mungkin.. Setelah itu sang anak membuka tasnya dan mengeluarkan sapu kecil tanpa gagang dari dalam tasnya yang ia pegang erat sejak tadi..kemudian masuk ke dalam mobil angkot itu.. Masih terlihat dari balik kaca gerak-geriknya…Ia membongkok-bongkokkan badannya mengais kolong-kolong jok penumpang dalam angkot dengan sapunya. Kemudian sekali-kali mengusap bagian atas jok itu dengan bajunya..Ia terus mengais-ngais dengan sapunya hingga sampai pada bagian pintu angkot itu.. Setelah selesai kemudian ia menghampiri sang sopir angkot yang sejak tadi sedang asyik ngobrol dengan sopir angkot yang lain. Sang sopir merogoh kantung bajunya dan mengeluarkan 1 keping uang koin limaratusan kemudian menyerahkn kepada anak itu. Anak itu menyambut dengan senyumnya. Kemudian ia segera berlari menghampiri angkot yang baru saja tiba dan di parkir tepat di belakang angkot yang ia sapu tadi, ia melakukan hal yang sama, mengeluarkan sapunya dan masuk ke dalam angkot dengan gerak-gerik yang sama, mengais2 debu dengan sapu kecil tanpa gagangnya..
Ku perhatikan hingga mobil angkot yang ketiga…Ia melakukan hal yang sama dan para sopir itupun memberikan sekeping uang yang sama.. satu keping uang limaratus rupiah..!. Mataku berkaca-kaca melihat itu semua, terharu, iba, bangga,..Subhanallah…anak itu hanyalah seorang tukang sapu angkot, di usia nya yang sekecil itu ia pasti telah mengerti arti kehidupan yang sebenarnya..Masih terlalu dini baginya untuk merasakan kerasnya hidup. Ia masih kecil tapi telah mampu makan dengan keringatnya sendiri. Masa indah kanak-kanaknya mungkin telah tenggelam diseret arus gelombang kehidupan. Dimataku saat itu ia adalah seorang ‘pahlawan’ kecil kehidupan..Yang mampu menyelamatkan diri dan bertahan dari ganasnya dunia nyata. Saat ia memutuskan untuk menjadi seorang tukang sapu angkot ketimbang meminta-minta seperti banyak anak seusianya di terminal ini sungguh ia telah menjadi pahlawan kecil kehidupan..!!. Sebuah cermin yang membuatku sangat malu menatap bayangan diriku sendiri… malu….sangat malu…
20 menit penantian…
Ku kembali melirik jam yang melingkari pergelangan tanganku.. Ya Allah sudah hampir 20 menit aku menunggu dalam bus ini…Tanpa sadar ternyata sudah cukup banyak yang mengisi bangku-bangku yang sejak tadi kosong.. Seorang ibu (seusia mama) kemudian menghampiriku, ia melihat tiketnya dan mencocokkan dengan nomor kursi “ini no 7 ya nak?” tanyanya kepadaku. Aku mengangguk “iya bu” sambutku dengan senyum (*Aku duduk di kursi no 8). Kubantu ibu itu meletakkan bungkusan plastik hitam besar miliknya di bawah jok mobil tepat disebelah kakiku.. Ia tersenyum kemudian duduk di sebelahku..”Alhamdulillah” lirihnya..Aku tersenyum, kemudian kembali menatap keluar dibalik jendela kaca ini..Aah, masih pemandangan yang sama, aku lelah….sangat lelah…Aku pejamkan mata beberapa detik, untuk kembali mengumpulkan tenaga dan kesadaran yang sejak tadi membawaku mengembara. Kubuka mata kemudian ku hela nafas panjang… Hhhuufff… Kurasakan relung-relung damai mulai menghampiri kembali…Ku coba tersenyum pada diriku sendiri…Sebuah senyum optimis untuk menghadapi semua tantangan yang ada di depanku saat ini… Tantangan kehidupan…..
Teguran petugas penarik retribusi terminal menyadarkanku dari ‘duniaku’ sendiri.. Segera ke buka tas ku dan kuambil satu keping uang limaratus rupiah..Ku lihat ibu yang duduk di sebelahku, ia tampak sibuk membongkar tasnya mencari uang kecil tampaknya..Kurogoh kembali tasku, ku tukar uang limaratus dengan satu lembar uang seribu dari dalam tasku..Kemudian kuserahkan kepada petugas retribusi itu, seraya berkata kepada ibu disebelah ku “Pake ini aja bu” kataku…Ibu itu tersenyum ‘Ooh ya, makasih ya… Ibu lagi gak ada duit kecil” katanya sambil tersenyum kepadaku.. “Iya bu” balasku dengan senyum juga..
Setelah itu terjadi obrolan antara aku dan ibu itu...Obrolan ‘perkenalan’ mungkin tepatnya..
Suara mesin mobil menghentikan obrolan kami “Alhamdulillah” desisku…”akhirnya bus ini berangkat juga”…Kembali kulirik jam, Ya Rabb, ternyata 20 menit persis aku menunggu dalam bus ini. Bus mulai bergerak, putaran-putaran roda mulai kurasakan. Bismillahirrahmanirrohim…Bismillahitawakaltu Allallahi lahawlawala quwwata illah billah…
Kulemparkan kembali pandangan dari balik kaca jendela… Masih berupa pemandangan yang sama, pemandangan terminal Rajabasa yang ramai dan sibuk. Ramai dengan para manusia yang mengejar perputaran waktu..Tapi kini pemandangan itu sedikit berbeda, kini ia bergerak, berubah dan berganti mengikuti irama perputaran roda bus yang mulai berlari meninggalkan sisa-sisa jejak yang tergores dalam tapak-tapak bumi, tanpa perduli bahwa jejak itu akan terhapus dan tergantikan dengan jejak-jejak baru…
Kulafazkan lirih “Fabiayyi ala irabbikuma tukadzibaan”…Sungguh tidak ada satu nikmat-Mu pun yang pantas hamba dustakan ya Rabb…Ampuni hamba atas segala keluhan yang tak pantas karena begitu banyak nikmat yang Kau berikan kepada hamba…Jadikanlah hamba seorang pembelajar sejati yang mampu mengambil hikmah dari setiap detik, menit dan jam yang telah dilewati, untuk semakin baik dalam setiap detik, menit dan jam yang akan dihadapi..Amin ya Rabbal aamin..
Semakin lama roda itu kurasa semakin cepat berputar, tapi aku hanya diam disini.. Mencoba mengikuti irama putarannya dan membiarkan ia membawaku mengikutinya.. Tapi aku tidak boleh diam terlalu lama, aku juga akan turut menorehkan jejak diatas tapak-tapak bumi ini. Sebuah jejak penuh makna, tanpa harus takut dan khawatir dengan jejak-jejak lain yang akan menutupinya. Karena jejak adalah sebuah sejarah, walaupun mungkin sejarah itu hanya akan dinikmati sendiri, tapi kuyakin bumi tidak akan mengahapus jejaknya, ia tetap akan merasakan sisa dari jejak-jejak itu dan akan mencatatnya sebagai bagian dari sejarah dirinya…..
Earthcity, 1 September 2009/ 11 Ramadhan 1430H
Pukul 23.25 WIB
Kamis, 27 Agustus 2009
Kamu Sudah Tahu, Maka Komitmenlah
Segala puji hanya bagi-Mu, ya Allah. Kepada-Mu segala yang ada di langit dan di bumi bertasbih dengan tidak mengenal lelah, jenuh, dan jemu. Maha Suci Engkau, Ya Allah. Engkaulah yang mensucikan hati-hati hamba-Mu sesuai dengan kehendak-Mu.
Wahai diriku.…
Mari coba tatap dalam-dalam dan bertanyalah siapa kamu? Maka di sana akan terlihat seluruh kelemahan yang ada. Balil insanu ‘ala nafsihi bashirah.
Diriku…, bercerminlah kepada seorang sahabat: Handzalah bin Rabi’ Al-Usaidi r.a. Ia salah satu penulis wahyu yang dengan segala kesadaran dirinya sendiri mengatakan, ”Nafaqo Handzalah, telah munafik Handzalah.”
Diriku…, apa yang terjadi pada diri Handzalah sampai-sampai menegur dirinya sendiri seperti itu? Padahal beliau sangat dekat dengan Rasullullah. Jawabnya tak lain adalah kejujuran diri. Handzalah merasa iman yang dimilikinya terasa kuat ketika berada di dekat Rasulullah saw. Seakan ia menatap surga dan neraka dengan kedua matanya. Namun ketika kembali sibuk dengan keluarganya, dengan aktivitas duniawinya, ia merasakan kondisi dirinya sangat berubah.
Diriku…, dengan kata apa kau harus mengungkapkan kondisimu? Seperti ungkapan Handzalah kah? Atau lebih dari itu? Atau lebih buruk? Ya Allah, ampunilah hambamu ini.
Wahai diriku….
Bukankah kamu juga telah mengenal siapa dirimu? Yang lebih banyak sibuk dengan dunia? Diri yang lemah dalam beribadah, diri yang merasa berat berkorban untuk taat? Diri yang banyak bicara sedikit kerja? Lalu apakah kamu masih terus melakukan itu padahal Allah swt. telah menegurmu: ”Aradhitum bil hayatiddunya minal akhirah, apakah kalian lebih cinta dunia dibanding akhirat?” Astagfirullah!
Diriku…, jika kamu telah tahu segala kekuatan dan kelemahanmu, lalu apa yang akan kau lakukan? Memperbaikinya? Atau, sebaliknya?
Bercerminlah, wahai diriku, kepada sahabat Huzaifah r.a. kala menjawab pertanyaan Rasulullah saw., “Bagaimana kondisimu hari ini, wahai Hudzaifah?” Dengan percaya diri ia menjawab, ”Alhamdulillah, ya Rasulullah, saat ini aku menjadi seorang mukmin yang kuat iman.” Rasulullah saw. bertanya kembali, “Hai Huzaifah, sungguh segala sesuatu itu ada buktinya. Maka apa bukti dari pernyataanmu itu?” Jawab Huzaifah r.a., ”Ya Rasulullah, tidak suatu pagi pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk sampai pada sore hari; dan tiada sore pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk hidup sampai pagi hari, melainkan aku melihat dengan jelas di depan mataku surga yang penduduknya bercanda ria menikmati keindahannya dan aku melihat neraka dengan penghuninya yang berteriak menjerit histeris merasakan dahsyatnya siksa.”
Diriku….
Adakah kau merindukan surga sehingga gelora semangatmu membahana memenuhi ruas pori-pori jiwamu, tergerak seluruh kesadaranmu untuk bermujahadah dan berjihad meraih ridha-Nya? Dan apakah kamu takut dan miris akan dahsyatnya siksa neraka sehingga tak satu pun sel tubuh ini kecuali berupaya terlindungi dari sengatannya pada hari pembalasan nanti?
Diriku….
Jika kamu telah mengetahui segala kelemahan yang ada , lalu kamu tidak segara menanggulanginya, maka ketahuilah kamu termasuk orang-orang yang merugi! Begitu pula ketika kamu telah mengetahui kekuatanmu dan kamu tidak bisa mempertahankannya, maka kamu pun termasuk orang yang merugi!
Karena itu….
Perbaiki, jaga, dan tumbuh suburkan kekuatan itu agar amal shaleh, ketaatan, dan dakwah tetap terjaga.
Dengarlah, tatkala mendengar jawaban Huzaifah r.a., Rasulullah saw. mengatakan, “Arafta falzam, kamu sudah tahu, maka komitmenlah dengan apa yang kamu tahu.”
Wahai diriku.…
Mari coba tatap dalam-dalam dan bertanyalah siapa kamu? Maka di sana akan terlihat seluruh kelemahan yang ada. Balil insanu ‘ala nafsihi bashirah.
Diriku…, bercerminlah kepada seorang sahabat: Handzalah bin Rabi’ Al-Usaidi r.a. Ia salah satu penulis wahyu yang dengan segala kesadaran dirinya sendiri mengatakan, ”Nafaqo Handzalah, telah munafik Handzalah.”
Diriku…, apa yang terjadi pada diri Handzalah sampai-sampai menegur dirinya sendiri seperti itu? Padahal beliau sangat dekat dengan Rasullullah. Jawabnya tak lain adalah kejujuran diri. Handzalah merasa iman yang dimilikinya terasa kuat ketika berada di dekat Rasulullah saw. Seakan ia menatap surga dan neraka dengan kedua matanya. Namun ketika kembali sibuk dengan keluarganya, dengan aktivitas duniawinya, ia merasakan kondisi dirinya sangat berubah.
Diriku…, dengan kata apa kau harus mengungkapkan kondisimu? Seperti ungkapan Handzalah kah? Atau lebih dari itu? Atau lebih buruk? Ya Allah, ampunilah hambamu ini.
Wahai diriku….
Bukankah kamu juga telah mengenal siapa dirimu? Yang lebih banyak sibuk dengan dunia? Diri yang lemah dalam beribadah, diri yang merasa berat berkorban untuk taat? Diri yang banyak bicara sedikit kerja? Lalu apakah kamu masih terus melakukan itu padahal Allah swt. telah menegurmu: ”Aradhitum bil hayatiddunya minal akhirah, apakah kalian lebih cinta dunia dibanding akhirat?” Astagfirullah!
Diriku…, jika kamu telah tahu segala kekuatan dan kelemahanmu, lalu apa yang akan kau lakukan? Memperbaikinya? Atau, sebaliknya?
Bercerminlah, wahai diriku, kepada sahabat Huzaifah r.a. kala menjawab pertanyaan Rasulullah saw., “Bagaimana kondisimu hari ini, wahai Hudzaifah?” Dengan percaya diri ia menjawab, ”Alhamdulillah, ya Rasulullah, saat ini aku menjadi seorang mukmin yang kuat iman.” Rasulullah saw. bertanya kembali, “Hai Huzaifah, sungguh segala sesuatu itu ada buktinya. Maka apa bukti dari pernyataanmu itu?” Jawab Huzaifah r.a., ”Ya Rasulullah, tidak suatu pagi pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk sampai pada sore hari; dan tiada sore pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk hidup sampai pagi hari, melainkan aku melihat dengan jelas di depan mataku surga yang penduduknya bercanda ria menikmati keindahannya dan aku melihat neraka dengan penghuninya yang berteriak menjerit histeris merasakan dahsyatnya siksa.”
Diriku….
Adakah kau merindukan surga sehingga gelora semangatmu membahana memenuhi ruas pori-pori jiwamu, tergerak seluruh kesadaranmu untuk bermujahadah dan berjihad meraih ridha-Nya? Dan apakah kamu takut dan miris akan dahsyatnya siksa neraka sehingga tak satu pun sel tubuh ini kecuali berupaya terlindungi dari sengatannya pada hari pembalasan nanti?
Diriku….
Jika kamu telah mengetahui segala kelemahan yang ada , lalu kamu tidak segara menanggulanginya, maka ketahuilah kamu termasuk orang-orang yang merugi! Begitu pula ketika kamu telah mengetahui kekuatanmu dan kamu tidak bisa mempertahankannya, maka kamu pun termasuk orang yang merugi!
Karena itu….
Perbaiki, jaga, dan tumbuh suburkan kekuatan itu agar amal shaleh, ketaatan, dan dakwah tetap terjaga.
Dengarlah, tatkala mendengar jawaban Huzaifah r.a., Rasulullah saw. mengatakan, “Arafta falzam, kamu sudah tahu, maka komitmenlah dengan apa yang kamu tahu.”
Selasa, 25 Agustus 2009
Keutamaan Puasa Ramadhan
Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’” (HR. Muslim no. 1151)
Dalam riwayat lain dikatakan,
قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى
“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.’” (HR. Bukhari no. 1904)
Dalam riwayat Ahmad dikatakan,
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), ‘Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.’” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
Pahala yang Tak Terhingga di Balik Puasa
Dari riwayat pertama, dikatakan bahwa setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan.
Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan,”Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs. Az Zumar: 10)
Sabar itu ada tiga macam yaitu
[1] sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah,
[2] sabar dalam meninggalkan yang haram dan
[3] sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa.
Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga sebagaimana sabar.
Amalan Puasa Khusus untuk Allah
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.” Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya.
Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya?
[Alasan pertama] Karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan ibadah shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi dan boleh menunda shalat ketika dalam kondisi seperti itu.
Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah melakukan ini semua –seperti meninggalkan hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa-, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memperhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab, “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari bahwa dia berada dalam pengawasan Allah meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka mentaati Rabbnya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya karena mengharap janji Rabb yang tidak nampak di hadapannya.” Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya.
[Alasan kedua] Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin yang hanya Allah saja yang mengetahuinya dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya.
Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga
Lalu dalam riwayat lainnya dikatakan, Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.”
Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan menghisab hamba-Nya. Setiap amalan akan menembus berbagai macam kezholiman yang pernah dilakukan, hingga tidak tersisa satu pun kecuali satu amalan yaitu puasa. Amalan puasa ini akan Allah simpan dan akhirnya Allah memasukkan orang tersebut ke surga.”
Jadi, amalan puasa adalah untuk Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang pun mengambil ganjaran amalan puasa tersebut sebagai tebusan baginya. Ganjaran amalan puasa akan disimpan bagi pelakunya di sisi Allah Ta’ala. Dengan kata lain, seluruh amalan kebaikan dapat menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan oleh pelakunya. Sehingga karena banyaknya dosa yang dilakukan, seseorang tidak lagi memiliki pahala kebaikan apa-apa. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa hari kiamat nanti antara amalan kejelekan dan kebaikan akan ditimbang, satu yang lainnya akan saling memangkas. Lalu tersisalah satu kebaikan dari amalan-amalan kebaikan tadi yang menyebabkan pelakunya masuk surga.
Itulah amalan puasa yang akan tersimpan di sisi Allah. Amalan kebaikan lain akan memangkas kejelekan yang dilakukan oleh seorang hamba. Ketika tidak tersisa satu kebaikan kecuali puasa, Allah akan menyimpan amalan puasa tersebut dan akan memasukkan hamba yang memiliki simpanan amalan puasa tadi ke dalam surga.
Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa
Dalam hadits di atas dikatakan, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.”
Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang berbuka puasa. Ketika berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika hal tersebut diperbolehkan lagi.
Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabbnya yaitu dia akan jumpai pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (Qs. Al Muzammil: 20)
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا
“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya).” (Qs. Ali Imron: 30)
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (Qs. Az Zalzalah: 7)
Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah
Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”
Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan dank arena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi.
Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ini ada dua sebab:
[Pertama] Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah di dunia. Ketika di akhirat, Allah pun menampakkan amalan puasa ini sehingga makhluk pun tahu bahwa dia adalah orang yang gemar berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa yang dia lakukan di hadapan manusia lainnya karena dulu di dunia, dia berusaha keras menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain. Inilah bau mulut yang harum yang dinampakkan oleh Allah di hari kiamat nanti karena amalan rahasia yang dia lakukan.
[Kedua] Barangsiapa yang beribadah dan mentaati Allah, selalu mengharap ridho Allah di dunia melalui amalan yang dia lakukan, lalu muncul dari amalannya tersebut bekas yang tidak terasa enak bagi jiwa di dunia, maka bekas seperti ini tidaklah dibenci di sisi Allah. Bahkan bekas tersebut adalah sesuatu yang Allah cintai dan baik di sisi-Nya. Hal ini dikarenakan bekas yang tidak terasa enak tersebut muncul karena melakukan ketaatan dan mengharap ridho Allah. Oleh karena itu, Allah pun membalasnya dengan memberikan bau harum pada mulutnya yang menyenangkan seluruh makhluk, walaupun bau tersebut tidak terasa enak di sisi makluk ketika di dunia.
Inilah beberapa keutamaan amalan puasa. Inilah yang akan diraih bagi seorang hamba yang melaksanakan amalan puasa yang wajib di bulan Ramadhan maupun amalan puasa yang sunnah dengan dilandasi keikhlasan dan selalu mengharap ridho Allah. Semoga kita dapat meraih beberapa keutamaan di atas dari amalan puasa Ramadhan yang kita lakukan nanti. Semoga Allah memberi kita selalu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib dan amalan yang diterima.
[Pembahasan ini disarikan dari Latho'if Al Ma'arif, Ibnu Rajab Al Hambali, 268-290, oleh Muhammad Abduh Tuasikal]
***
Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ
“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’” (HR. Muslim no. 1151)
Dalam riwayat lain dikatakan,
قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى
“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.’” (HR. Bukhari no. 1904)
Dalam riwayat Ahmad dikatakan,
قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ
“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), ‘Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.’” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)
Pahala yang Tak Terhingga di Balik Puasa
Dari riwayat pertama, dikatakan bahwa setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan.
Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan,”Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah Ta’ala berfirman,
إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs. Az Zumar: 10)
Sabar itu ada tiga macam yaitu
[1] sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah,
[2] sabar dalam meninggalkan yang haram dan
[3] sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa.
Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga sebagaimana sabar.
Amalan Puasa Khusus untuk Allah
Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.” Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya.
Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya?
[Alasan pertama] Karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan ibadah shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi dan boleh menunda shalat ketika dalam kondisi seperti itu.
Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah melakukan ini semua –seperti meninggalkan hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa-, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memperhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab, “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari bahwa dia berada dalam pengawasan Allah meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka mentaati Rabbnya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya karena mengharap janji Rabb yang tidak nampak di hadapannya.” Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya.
[Alasan kedua] Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin yang hanya Allah saja yang mengetahuinya dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya.
Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga
Lalu dalam riwayat lainnya dikatakan, Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.”
Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan menghisab hamba-Nya. Setiap amalan akan menembus berbagai macam kezholiman yang pernah dilakukan, hingga tidak tersisa satu pun kecuali satu amalan yaitu puasa. Amalan puasa ini akan Allah simpan dan akhirnya Allah memasukkan orang tersebut ke surga.”
Jadi, amalan puasa adalah untuk Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang pun mengambil ganjaran amalan puasa tersebut sebagai tebusan baginya. Ganjaran amalan puasa akan disimpan bagi pelakunya di sisi Allah Ta’ala. Dengan kata lain, seluruh amalan kebaikan dapat menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan oleh pelakunya. Sehingga karena banyaknya dosa yang dilakukan, seseorang tidak lagi memiliki pahala kebaikan apa-apa. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa hari kiamat nanti antara amalan kejelekan dan kebaikan akan ditimbang, satu yang lainnya akan saling memangkas. Lalu tersisalah satu kebaikan dari amalan-amalan kebaikan tadi yang menyebabkan pelakunya masuk surga.
Itulah amalan puasa yang akan tersimpan di sisi Allah. Amalan kebaikan lain akan memangkas kejelekan yang dilakukan oleh seorang hamba. Ketika tidak tersisa satu kebaikan kecuali puasa, Allah akan menyimpan amalan puasa tersebut dan akan memasukkan hamba yang memiliki simpanan amalan puasa tadi ke dalam surga.
Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa
Dalam hadits di atas dikatakan, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.”
Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang berbuka puasa. Ketika berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika hal tersebut diperbolehkan lagi.
Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabbnya yaitu dia akan jumpai pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan.
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا
“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (Qs. Al Muzammil: 20)
يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا
“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya).” (Qs. Ali Imron: 30)
فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ
“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (Qs. Az Zalzalah: 7)
Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah
Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”
Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan dank arena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi.
Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ini ada dua sebab:
[Pertama] Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah di dunia. Ketika di akhirat, Allah pun menampakkan amalan puasa ini sehingga makhluk pun tahu bahwa dia adalah orang yang gemar berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa yang dia lakukan di hadapan manusia lainnya karena dulu di dunia, dia berusaha keras menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain. Inilah bau mulut yang harum yang dinampakkan oleh Allah di hari kiamat nanti karena amalan rahasia yang dia lakukan.
[Kedua] Barangsiapa yang beribadah dan mentaati Allah, selalu mengharap ridho Allah di dunia melalui amalan yang dia lakukan, lalu muncul dari amalannya tersebut bekas yang tidak terasa enak bagi jiwa di dunia, maka bekas seperti ini tidaklah dibenci di sisi Allah. Bahkan bekas tersebut adalah sesuatu yang Allah cintai dan baik di sisi-Nya. Hal ini dikarenakan bekas yang tidak terasa enak tersebut muncul karena melakukan ketaatan dan mengharap ridho Allah. Oleh karena itu, Allah pun membalasnya dengan memberikan bau harum pada mulutnya yang menyenangkan seluruh makhluk, walaupun bau tersebut tidak terasa enak di sisi makluk ketika di dunia.
Inilah beberapa keutamaan amalan puasa. Inilah yang akan diraih bagi seorang hamba yang melaksanakan amalan puasa yang wajib di bulan Ramadhan maupun amalan puasa yang sunnah dengan dilandasi keikhlasan dan selalu mengharap ridho Allah. Semoga kita dapat meraih beberapa keutamaan di atas dari amalan puasa Ramadhan yang kita lakukan nanti. Semoga Allah memberi kita selalu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib dan amalan yang diterima.
[Pembahasan ini disarikan dari Latho'if Al Ma'arif, Ibnu Rajab Al Hambali, 268-290, oleh Muhammad Abduh Tuasikal]
***
Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id
KERUDUNG WANITA ATAU JILBAB(PERINTAH ALLAH YANG SUDAH DILUPAKAN UMAT ISLAM)
Ada satu peribahasa pendek, sederhana, tetapi dalam artinya, yang berbunyi sebagai berikut: “Tak Kenal Maka Tak Sayang” Sesuai dengan peribahasa diatas, ada satu perintah Allah yang penting yang hampir tak dikenal atau dianggap enteng oleh umat Islam, yaitu keharusan wanita memakai kerudung kepala.
Keharusan kaum wanita memakai kerudung kepala tertera dalam surat An Nur ayat 31 yang cukup panjang, yang penulis kutip satu baris saja, yang berbunyi sebagai berikut. : “Katakanlah kepada wanita yang beriman… … … . . Dan hendaklah mereka menutupkan kerudung kepalanya sampai kedadanya”… … . .
Dan seperti yang tercantum dalam surat Al Ahzab ayat 59 yang artinya sebagai berikut. : “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isteri engkau, anak-anak perempuan engkau dan isteri-isteri orang mu’min, supaya mereka menutup kepala dan badan mereka dengan jilbabnya supaya mereka dapat dikenal orang, maka tentulah mereka tidak diganggu (disakiti) oleh laki-laki yang jahat. Allah pengampun lagi pengasih”.
Perintah Allah diatas adalah jelas dan tegas yang wajib hukumnya bagi kaum wanita sebagaimana dinyatakan Allah pada pembukaan surat An Nur yaitu : “Inilah satu surah yang Kami turunkan kepada rasul dan Kami wajibkan menjalankan hukum-hukum syariat yang tersebut didalamnya. Dan Kami turunkan pula didalamnya keterangan-keterangan yang jelas, semoga kamu dapat mengingatnya”.
Dari bunyi ayat diatas jelaslah wanita yang tidak memakai kerudung telah melakukan dosa yang besar karena ingkar kepada hukum syariat Islam yang diwajibkan oleh Allah.
Perintah Allah diatas ditegaskan lagi oleh Nabi Muhammad S.A.W. dalam hadist beliau yang artinya : “Wahai Asma! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah cukup umur, tidak boleh dilihat seluruh anggota tubuhnya, kecuali ini dan ini, sambil rasulullah menunjuk muka dan kedua tapak tangannya”.
Sekarang kalau kita keliling diseluruh Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei, sedikit sekali kaum wanita Islam yang memakai kerudung kepala, umumnya hanya anak-anak gadis pesantren. Jumlah kaum wanita yang memakai kerudung kepala bisa dihitung dengan jari, tidak ada artinya dari jumlah penduduk Islam yang lebih kurang 180 juta.
Kalau begitu gambarannya, banyak sekali kaum wanita yang masuk neraka, cocok sekali dengan bunyi hadits dibawah ini, yang artinya sebagai berikut. : “Saya berdiri dimuka pintu soranga, tiba-tiba umumnya yang masuk ke soranga orang-orang miskin, sedangkan orang yang kaya-kaya masih tertahan, hanya saja bahagian mereka telah diperintahkan masuk neraka, dan aku berdiri di pintu neraka maka kebanyakan yang masuk neraka wanita.
Banyak kaum wanita yang masuk neraka, semata-mata karena didalam hidupnya tak mau memakai kerudung kepala atau Jilbab, didalam neraka akan mendapat siksaan yang berat sekali sebagai mana diceritakan Nabi Muhammad dalam hadits beliau yang artinya sebagai berikut. ; “Wanita yang akan digantung dengan rambutnya, sampai mendidih otak dikepalanya didalam neraka, ialah wanita-wanita yang memperlihatkan rambutnya kepada laki-laki yang bukan muhrimnya” Hadits diatas adalah bahagian akhir dari hadits nabi Muhammad yang cukup panjang, yang menceritakan berbagai macam siksa neraka yang diperlihatkan Allah waktu beliau pergi mikraj. Waktu beliau menceritakan nasib kaum wanita yang berat siksanya didalam neraka karena tak mau memakai kerudung kepala atau jilbab didalam hidupnya, beliau meneteskan air mata.
Begitulah Nabi Muhammad S.A.W. menangisi nasib kaum wanita dari ummatnya nanti di akherat, tetapi sekarang kalau kaum wanita Islam disuruh memakai kerudung kepala, banyak alasannya ada yang mengatakan fanatika agama, sudah kuno tidak cocok dengan zaman, panas dan lain sebagainya. Sikap kaum wanita di zaman sekarang sungguh bertolak belakang dengan sikap kaum wanita di zaman dahulu diwaktu ayat kerudung kepala itu turun, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah, istri Nabi Muhammad S.A.W. berikut ini : “telah berkata Aisyah : Mudah-mudahan Allah memberi rahmat atas perempuan-perempuan Muhajirat yang dahulu. Diwaktu Allah menurunkan ayat kerudung itu, mereka koyak kain-kain berlukis mereka yang belum dijahit, lalu mreka jadikan kerudung”.
Sikap wanita Islam di Medinah pada waktu turunnya ayat kerudung itu, betul-betul cocok dengan seorang pribadi beriman, sebagai yang digambarkan Allah didalam Al Qur’an, yaitu jika mereka mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, mereka lalu berkata :”Kami mendengar dan kami patuh”.
Tetapi sekarang sikap sebagian wanita Islam, jika dibacakan ayat mengenai keharusan memamakai Jilbab, mereka berkata :”Kami mendengar tetapi kami ingkar. ” Kalau begitu sikap kaum wanita Islam terhadap ayat Jilbab ini, betul tidak cocok dengan pengakuannya kepada Allah didalam shalat yang berbunyi sebagai berikut:
“La syarikallahu wabidzalika ummirtu wa anna minal muslimin. ” Yang artinya “Tiada syarikat bagi Engkau dan aku mengaku seorang muslimah”
Seorang wanita yang mengaku dirinya seorang muslimah, yaitu tunduk dan patuh kepada seluruh perintah Allah, harus berpakaian muslimah didalam hidupnya, yaitu terdiri dari jilbab dan pakaian yang menutup seluruh anggota tubuhnya, berlengan panjang sampai pergelangan tangannya dan memakai rok yang menutup sampai mata kakinya. Kalau mereka tidak berpakaian seperti diatas, mereka bukan disebut wanita muslimah. Jadi pengakuannya didalam shalat yang berbunyi :”Aku mengaku seorang muslimah” adalah kosong, dusta kepada Allah.
Seseorang yang bersumpah palsu saja dimuka pengadilan adalah berat hukumannya, apalagi seseorang yang berjanji palsu dihadapan Allah, tentu berat hukumannya didalam neraka, yaitu sampai digantung dengan rambutnya hingga mendidih otaknya.
Kaum wanita menyangka bahwa tidak memakai jilbab adalah dosa kecil yang tertutup dengan pahala yang banyak dari shalat, puasa, zakat dan haji yang mereka lakukan. Ini adalah cara berpikir yang salah harus diluruskan. Kaum wanita yang tak memakai jilbab, tidak saja telah berdosa besar kepada Allah, tetapi telah hapus seluruh pahala amal ibadahnya sebagai bunyi surat Al Maidah ayat 5 baris terakhir yang artinya :”… . . Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan diakhirat dia termasuk orang-orang yang merugi
Keharusan kaum wanita memakai kerudung kepala tertera dalam surat An Nur ayat 31 yang cukup panjang, yang penulis kutip satu baris saja, yang berbunyi sebagai berikut. : “Katakanlah kepada wanita yang beriman… … … . . Dan hendaklah mereka menutupkan kerudung kepalanya sampai kedadanya”… … . .
Dan seperti yang tercantum dalam surat Al Ahzab ayat 59 yang artinya sebagai berikut. : “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isteri engkau, anak-anak perempuan engkau dan isteri-isteri orang mu’min, supaya mereka menutup kepala dan badan mereka dengan jilbabnya supaya mereka dapat dikenal orang, maka tentulah mereka tidak diganggu (disakiti) oleh laki-laki yang jahat. Allah pengampun lagi pengasih”.
Perintah Allah diatas adalah jelas dan tegas yang wajib hukumnya bagi kaum wanita sebagaimana dinyatakan Allah pada pembukaan surat An Nur yaitu : “Inilah satu surah yang Kami turunkan kepada rasul dan Kami wajibkan menjalankan hukum-hukum syariat yang tersebut didalamnya. Dan Kami turunkan pula didalamnya keterangan-keterangan yang jelas, semoga kamu dapat mengingatnya”.
Dari bunyi ayat diatas jelaslah wanita yang tidak memakai kerudung telah melakukan dosa yang besar karena ingkar kepada hukum syariat Islam yang diwajibkan oleh Allah.
Perintah Allah diatas ditegaskan lagi oleh Nabi Muhammad S.A.W. dalam hadist beliau yang artinya : “Wahai Asma! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah cukup umur, tidak boleh dilihat seluruh anggota tubuhnya, kecuali ini dan ini, sambil rasulullah menunjuk muka dan kedua tapak tangannya”.
Sekarang kalau kita keliling diseluruh Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei, sedikit sekali kaum wanita Islam yang memakai kerudung kepala, umumnya hanya anak-anak gadis pesantren. Jumlah kaum wanita yang memakai kerudung kepala bisa dihitung dengan jari, tidak ada artinya dari jumlah penduduk Islam yang lebih kurang 180 juta.
Kalau begitu gambarannya, banyak sekali kaum wanita yang masuk neraka, cocok sekali dengan bunyi hadits dibawah ini, yang artinya sebagai berikut. : “Saya berdiri dimuka pintu soranga, tiba-tiba umumnya yang masuk ke soranga orang-orang miskin, sedangkan orang yang kaya-kaya masih tertahan, hanya saja bahagian mereka telah diperintahkan masuk neraka, dan aku berdiri di pintu neraka maka kebanyakan yang masuk neraka wanita.
Banyak kaum wanita yang masuk neraka, semata-mata karena didalam hidupnya tak mau memakai kerudung kepala atau Jilbab, didalam neraka akan mendapat siksaan yang berat sekali sebagai mana diceritakan Nabi Muhammad dalam hadits beliau yang artinya sebagai berikut. ; “Wanita yang akan digantung dengan rambutnya, sampai mendidih otak dikepalanya didalam neraka, ialah wanita-wanita yang memperlihatkan rambutnya kepada laki-laki yang bukan muhrimnya” Hadits diatas adalah bahagian akhir dari hadits nabi Muhammad yang cukup panjang, yang menceritakan berbagai macam siksa neraka yang diperlihatkan Allah waktu beliau pergi mikraj. Waktu beliau menceritakan nasib kaum wanita yang berat siksanya didalam neraka karena tak mau memakai kerudung kepala atau jilbab didalam hidupnya, beliau meneteskan air mata.
Begitulah Nabi Muhammad S.A.W. menangisi nasib kaum wanita dari ummatnya nanti di akherat, tetapi sekarang kalau kaum wanita Islam disuruh memakai kerudung kepala, banyak alasannya ada yang mengatakan fanatika agama, sudah kuno tidak cocok dengan zaman, panas dan lain sebagainya. Sikap kaum wanita di zaman sekarang sungguh bertolak belakang dengan sikap kaum wanita di zaman dahulu diwaktu ayat kerudung kepala itu turun, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah, istri Nabi Muhammad S.A.W. berikut ini : “telah berkata Aisyah : Mudah-mudahan Allah memberi rahmat atas perempuan-perempuan Muhajirat yang dahulu. Diwaktu Allah menurunkan ayat kerudung itu, mereka koyak kain-kain berlukis mereka yang belum dijahit, lalu mreka jadikan kerudung”.
Sikap wanita Islam di Medinah pada waktu turunnya ayat kerudung itu, betul-betul cocok dengan seorang pribadi beriman, sebagai yang digambarkan Allah didalam Al Qur’an, yaitu jika mereka mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, mereka lalu berkata :”Kami mendengar dan kami patuh”.
Tetapi sekarang sikap sebagian wanita Islam, jika dibacakan ayat mengenai keharusan memamakai Jilbab, mereka berkata :”Kami mendengar tetapi kami ingkar. ” Kalau begitu sikap kaum wanita Islam terhadap ayat Jilbab ini, betul tidak cocok dengan pengakuannya kepada Allah didalam shalat yang berbunyi sebagai berikut:
“La syarikallahu wabidzalika ummirtu wa anna minal muslimin. ” Yang artinya “Tiada syarikat bagi Engkau dan aku mengaku seorang muslimah”
Seorang wanita yang mengaku dirinya seorang muslimah, yaitu tunduk dan patuh kepada seluruh perintah Allah, harus berpakaian muslimah didalam hidupnya, yaitu terdiri dari jilbab dan pakaian yang menutup seluruh anggota tubuhnya, berlengan panjang sampai pergelangan tangannya dan memakai rok yang menutup sampai mata kakinya. Kalau mereka tidak berpakaian seperti diatas, mereka bukan disebut wanita muslimah. Jadi pengakuannya didalam shalat yang berbunyi :”Aku mengaku seorang muslimah” adalah kosong, dusta kepada Allah.
Seseorang yang bersumpah palsu saja dimuka pengadilan adalah berat hukumannya, apalagi seseorang yang berjanji palsu dihadapan Allah, tentu berat hukumannya didalam neraka, yaitu sampai digantung dengan rambutnya hingga mendidih otaknya.
Kaum wanita menyangka bahwa tidak memakai jilbab adalah dosa kecil yang tertutup dengan pahala yang banyak dari shalat, puasa, zakat dan haji yang mereka lakukan. Ini adalah cara berpikir yang salah harus diluruskan. Kaum wanita yang tak memakai jilbab, tidak saja telah berdosa besar kepada Allah, tetapi telah hapus seluruh pahala amal ibadahnya sebagai bunyi surat Al Maidah ayat 5 baris terakhir yang artinya :”… . . Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan diakhirat dia termasuk orang-orang yang merugi
Minggu, 23 Agustus 2009
Sebait kata, sejuta makna
Sejak saat itu dia masih disini,,
Berdiri berbalut rindu...
Dia tak pergi,
wlwpun kau mgkin telah pergi,,,
Tapi sejak saat itu dia masih disini,,
Hanya lambaian tangan yg ia berikan ktika itu,,
lalu kau mungkin menjauh,,
Tapi taukah kau,
ternyta dia masih disini.....!!
Dia tak mampu pergi,,
Hanya beberapa kali geseran2 kecil langkah itu trcipta,,
tapi tetap saja ia tak mampu pergi....
23/08/09_earthcity ^_^
Berdiri berbalut rindu...
Dia tak pergi,
wlwpun kau mgkin telah pergi,,,
Tapi sejak saat itu dia masih disini,,
Hanya lambaian tangan yg ia berikan ktika itu,,
lalu kau mungkin menjauh,,
Tapi taukah kau,
ternyta dia masih disini.....!!
Dia tak mampu pergi,,
Hanya beberapa kali geseran2 kecil langkah itu trcipta,,
tapi tetap saja ia tak mampu pergi....
23/08/09_earthcity ^_^
Jumat, 21 Agustus 2009
Sepenggal kata yg bermakna^^
Ku hanya ingin bilang
Rasa itu tak mampu hilang….sejak saat itu dia tak pergi…
Ia tetap berada di sini, berbalut rindu yang terkadang menghujam..
Cukup, ku hanya ingin bilang itu… ^_^
Rasa itu tak mampu hilang….sejak saat itu dia tak pergi…
Ia tetap berada di sini, berbalut rindu yang terkadang menghujam..
Cukup, ku hanya ingin bilang itu… ^_^
Kamis, 20 Agustus 2009
Dialog Hati

Ku berubah..katanya…
Aah masa’ iya????
Iya…kau berubah…!
Kau berubah setelah menemukan dia dan mereka….
Kalau begitu aku ingin berterimaksih kpd dia dan mereka yang telah membuatku berubah
Karena kusemakin sadar bahwa inilah kehidupan..
Dunia nyata menuntut ku untuk seperti ini, jawabku…
Ku hanya ingin jujur pada diri sendiri,
Ku ingin bebas tanpa pengekangan oleh sesuatu yang tak pantas mengekang
Apakah kau lelah? tanyanya..
Ya..aku lelah..
Lelah dengan belenggu kepura-puraan yang terus mengiringi
Dan kelelahan ini menuntut ku untuk mengambil langkah
Keluar dari kelelahan itu sendiri…
Kotabumi, 21 Agustus/30 Sya’ban 1430H
11.00 pm
Sisi-sisi itu...??
21 Agustus 2009
Allah kembali tunjukkan sebuah sisi…namun sisi yang ini berbeda dari sisi kemarin..
Sebuah sisi baru yang juga menggugah sebuah jiwa…Tepatnya jiwa ku mungkin..
Kebenaran dari sisi-sisi ini tak pernah kuduga sebelumnya..
Bahkan terlintas di pikirankupun tidak..
Sisi-sisi itu sungguh sangat mengejutkan..
Aku mengira aku telah mengenalmu dengan baik..
Aku mengira kau takkan mungkin melakukan itu…
Tapi kenyataan ini membuat ku semakin berpikir…
Aaah semakin kusadar, kehidupan itu memang penuh dengan misteri…
Termasuk hidupmu, hidupku dan hidup kita tentunya…
Semua pasti punya cerita sendiri
Awal mulanya aku kecewa, sungguh…
Kau tahu apa yang kurasa?? KECEWA..!
Aku juga tidak mengerti mengapa ku kecewa,
Mungkin karena ku tak pernah menyangka sebelumnya
Ku kira jalan itu begitu lurus, tapi ternyata Tidak..!
Cukup lama ku bisa menerima, tapi akhirnya kusadar
Aku, kau dan kita adalah manusia biasa..
Yang hanya mencoba mengukir setiap langkah dan goresan tinta kehidupan dalam garis yang Ia tetapkan..
Walaupun mungkin terkadang langkah itu atau tinta itu terpaksa berwarna.
Aku sadar karena ku melihat cermin itu pada diriku sendiri..
Mungkin jika Allah membukakan sisi2 ku pada mu
Sisi yang kau lihat akan jauh lebih buruk dari sisi yang Allah tunjukkan untukku itu..
Kusadar kawan, aku pun pernah salah,,
Tapi hanya lantaran kasih sayang Allah, ia masih berkenan menutupkan aib-aib itu untukku..
Aku kini tidak kecewa kawan,
Aku justru malu, sungguh….
Aku sadar kau tidak salah, bahkan ketika kau mempunyai rasa itupun kau tidak salah…!!
Aku semakin sadar bahwa hidup itu memang sulit,
Ketika aku berada di posisimu, mungkin aku akan terjerumus lebih dalam lagi..
Kau tidak salah, karena inilah sisi mu, bagian dari hidupmu..
Tapi misteri itu sungguh mengganggu pikiranku……..
Aku melihat kebelakang, kisah-kisah yang sempat tergores pula dalam setiap titik makna hidupku..
Ku sadar bahwa ku juga tidak lebih baik darimu..
Aku malu kawan….
Kau tidak salah karena kau hanya mengungkapkan apa yang kau rasa
Mungkin saja ketika itu kau salah memilih caranya
Sudahlah kurasa cukup,
Sekali lagi aku, kau dan kita adalah manusia
Yang mencoba membimbing fitrah itu tetap berda di jalannya…
Biarkan ini menjadi episode dari sisi hidup mu..
Untuk menjadi pelajaran berharga dari rangkaian episode kehidupan kami..
Allah kembali tunjukkan sebuah sisi…namun sisi yang ini berbeda dari sisi kemarin..
Sebuah sisi baru yang juga menggugah sebuah jiwa…Tepatnya jiwa ku mungkin..
Kebenaran dari sisi-sisi ini tak pernah kuduga sebelumnya..
Bahkan terlintas di pikirankupun tidak..
Sisi-sisi itu sungguh sangat mengejutkan..
Aku mengira aku telah mengenalmu dengan baik..
Aku mengira kau takkan mungkin melakukan itu…
Tapi kenyataan ini membuat ku semakin berpikir…
Aaah semakin kusadar, kehidupan itu memang penuh dengan misteri…
Termasuk hidupmu, hidupku dan hidup kita tentunya…
Semua pasti punya cerita sendiri
Awal mulanya aku kecewa, sungguh…
Kau tahu apa yang kurasa?? KECEWA..!
Aku juga tidak mengerti mengapa ku kecewa,
Mungkin karena ku tak pernah menyangka sebelumnya
Ku kira jalan itu begitu lurus, tapi ternyata Tidak..!
Cukup lama ku bisa menerima, tapi akhirnya kusadar
Aku, kau dan kita adalah manusia biasa..
Yang hanya mencoba mengukir setiap langkah dan goresan tinta kehidupan dalam garis yang Ia tetapkan..
Walaupun mungkin terkadang langkah itu atau tinta itu terpaksa berwarna.
Aku sadar karena ku melihat cermin itu pada diriku sendiri..
Mungkin jika Allah membukakan sisi2 ku pada mu
Sisi yang kau lihat akan jauh lebih buruk dari sisi yang Allah tunjukkan untukku itu..
Kusadar kawan, aku pun pernah salah,,
Tapi hanya lantaran kasih sayang Allah, ia masih berkenan menutupkan aib-aib itu untukku..
Aku kini tidak kecewa kawan,
Aku justru malu, sungguh….
Aku sadar kau tidak salah, bahkan ketika kau mempunyai rasa itupun kau tidak salah…!!
Aku semakin sadar bahwa hidup itu memang sulit,
Ketika aku berada di posisimu, mungkin aku akan terjerumus lebih dalam lagi..
Kau tidak salah, karena inilah sisi mu, bagian dari hidupmu..
Tapi misteri itu sungguh mengganggu pikiranku……..
Aku melihat kebelakang, kisah-kisah yang sempat tergores pula dalam setiap titik makna hidupku..
Ku sadar bahwa ku juga tidak lebih baik darimu..
Aku malu kawan….
Kau tidak salah karena kau hanya mengungkapkan apa yang kau rasa
Mungkin saja ketika itu kau salah memilih caranya
Sudahlah kurasa cukup,
Sekali lagi aku, kau dan kita adalah manusia
Yang mencoba membimbing fitrah itu tetap berda di jalannya…
Biarkan ini menjadi episode dari sisi hidup mu..
Untuk menjadi pelajaran berharga dari rangkaian episode kehidupan kami..
Rabu, 19 Agustus 2009
Harapku....Selalu....

Ku ingin memaknai hidup ini lebih dalam lagi..
Karena semakin hari, semakin ku sadar bahwa perjalanan ini hanya sesaat
Karena kapan saja Ia bisa menjemput diri ini…
Suatu saat ketika masa itu tiba,
Ku takut tak ada yang dapat dikisahkan orang lain tentang diriku..
Tak ada yang dapat menceritakan diriku dengan sebnarnya…
Mereka hanya bisa berasumsi dengan pendapat mereka masing-masing…
Ya Rabb, ku tak ingin begitu…
Kapan saja, dimana saja aku akan meninggalkan ataupun mungkin ditinggalkan..
Diri yang hina ini hanya mampu berharap
Jika saatnya tiba maka panggillah kami dalam kondisi yang terbaik
Yaitu kondisi sebaik-baiknya hamba dalam menghadap Rabbnya..
Kondisi yang sangat dirindukan setiap insan…
Khusnul Khotimah…amiin…
Kotabumi, 18 Agustus 2009
Pukul.21.51 WIB
Kau ajarkan aku untuk menggoreskan kisah di setiap perjalanan hidup

15 Agustus 2009
Pukul 22.00 aku terbangun dari tidur, udara malam yang panas membangunkan tidurku malam ini. Sekitar pukul 23.00 ku dapat berita seorang saudara kami mendapat kecelakaan dan dalam kondisi kritis. Muhammad Luthfie, seorang yang telah lama ku kenal, seorang sahabat terbaik buat kami…Aku terus berdoa Ya Rabb, Engkau Maha Penyembuh, maka sembuhanlah saudaraku itu…Beberapa menit setelah itu (sekitar pukul 23.15) kembali ku mendapat telepon mengabarkan bahwa kau telah pergi menghadapNya..Entah apa yang kurasakn saat itu, kucoba mengkondisikan diri benarkah berita yang kudengar ini??, Kumasih berharap ini semua hanya mimpi, dan Allah segera membangunkan aku dari tidurku…Ya Rabb bangunkan aku….!!.
Tapi kusadar semua ini ternyata bukan mimpi, ini nyata…!! Kami telah kehilangan salah satu saudara terbaik kami malam itu. Kami pun harus ikhlas dan relakan dia pergi mendahului kami..Sesaat ketika itu juga pikiranku terbawa flashback kebelakang, mengenang masa-masa engkau hadir dalam setiap perjuangan yang kita lakukan bersama, kata-kata terakhir bahkan setiap nasehat yang kau berikan…Ya Rabb begitu cepat kau panggil saudara kami itu,, bahkan belum sempat hamba meminta maaf kepadanya…
Ku teringat ketika suatu hari,(hanya bbrp minggu sblm kau pergi) kau mengirimkan sms “Vi, mana nih tulisan alumni, Blog IKA sepi banget, nulis dong, ente kan sekarang punya banyak waktu..”, kau tahu ekspresiku saat itu?? ‘Sebal..!” yupz…jujur ku sebal mendengarnya, dalam hati ku berkata “Kenapa gak ente aja yang nulis! Uuhgggh…Proyek Profil IKA aja kaupun blm sempat kirimkan sekarang malah nyuruh2 nulis lagi…!,,”..Tapi ku tak balas sms itu, ya sudah biarlah beliau ‘berkicau’ pikirku saat itu…Tak beberapa lama sms mu kembali masuk “Vi, af1 ya kalau kata2 ana tadi menyinggung, bukan begitu maksudnya ana terus menunggu tulisan dari antum dan para alumni, tulisan yang bs menggugah”…Wah, keren juga dia ternyata tau apa dampak dari smsnya tadi terhadap kondisi hati ku saat itu…tapi tetap tak kubalas sms mu, kuanggap aja angin lalu…kemudian tak beberapa lama kau kirimkan lagi sms “Vi, sms ane kok nggak ditanggapi??”…Aiih kenapa ni orang, pikirku saat itu…lebay dech..!!, tetap tak ku balas sms itu…Tak lama kuterima lagi sms darimu “Vi, ngomong geh, ane lebih baik di cerewetin akhwat daripada di diem’in kayak gini”…Lagi-lagi ku heran ada apa sih dengan ni orang, gak biasanya kayak gini..aneh, bodo’ ah, cuekin aja pikirku saat itu…Lagi-lagi tak kubalas juga sms itu,,, Lalu kau sms lagi “Ya sudah kalau gitu maapin ane lahir dan bathin ya vi…”..Ku baca sekilas lalu ku taruh lagi handphone ku…kemudian ku lanjutkan aktivitasku…Tak beberapa lama handphone ku kembali berdering, bukan handphone yang tadi, tapi handphone ku yang lain…Kubuka dan kubaca,,, aah..ternyata lagi-lagi ini sms darimu..”Vi, tadi ana kirim beberapa sms ke no AS antm”… Ya elah sudah tau, dari tadi juga udah dibaca….!, Kembali kulanjutkan aktivitasku dan tak kubalas sms itu…
Keesokan harinya, sudah menjadi kebiasaan ku setiap pagi membuka kembali inbox pesan di hp ku…Kubaca kembali sms2 darimu…kemudian aku berfikir, begitu jahatnya diri ini telah bersikap ‘cuex’ kayak gini, akhirnya tergerak hati ini untuk balas sms itu… “Iya, InsyAllah gakpa2, nanti ana usahakan untuk menulis”. Jawaban singkat dariku…aah tak perlu berbasa-basi bukan? Pikirku saat itu…Tak ada lagi tanggapan darimu saat itu…Ya sudahlah, bukan masalah bagiku….Dan akhirnya semua itu berlalu begitu saja………
Akhirnya ku sadar sekarang…permintaan maaf darimu, mungkin itu salah satu tanda kepergianmu… Saudaraku, maafkan aku….
16 Agustus 2009
Pagi ini kami akan berangkat ke Bekasi untuk menyusul mengantarkan kan mu, karena jenasahmu telah dibawa lebih dulu ke Bekasi, tempat tinggalmu…Kami berangkat menggunakan 2 mobil, sungguh banyak yang ingin mengantarkanmu saudraku, bahkan beberapa saudara kita yang jauh disana (Nia, Yuli, etc) sangat ingin menyertai mengantarkanmu, tapi karena keterbatasan waktu dan tempat mereka hanya menitipkan salam dan mengirimkan doa untuk mu dan keluargamu…Kau tetap akan selalu menjadi saudara dan sahabat terbaik kami…Selamat jalan…
Pukul 11.30 kami masih di kapal menyeberangi selat Sunda, mendapat kabar bahwa jenasahmu telah tiba dirumah orang tuamu, setelah itu akan segera dimandikan dan disholatkan…Ya Rabb, hanya satu keinginan ku saat itu, izinkan aku melihat jasadmu untuk yang terakhir kalinya…Namun perjalanan kapal ini sangat lambat terasa, aku putus asa,, mungkin aku takkan pernah melihat mu lagi saudaraku…Ya Rabb, ikhlaskan kami…Pukul 14.30 kapal kami baru tiba di Merak, dan mendapat kabar bahwa kau akan segera dimakamkan… Ya Rabb, kami ikhlas walupun berat, bahkan untuk melihat jasadmu untuk yang terakhir kalinya kamipun tak bisa….Tapi beliau milikMu Ya Rabb…
Kami tiba maghrib dirumahmu, disambut ibu dan keluargamu….Keluargamu bilang engkau telah dimakamkan, dan makammu jauh dari rumah dan tak mungkin kalau kami kesana malam ini… Ya Allah, tangiskupun tumpah saat itu juga, Allah belum mengizinkan kami untuk melihat jasadmu, bahkan mengantarkanmu ke makam, dan saat ini kamipun belum bisa melihat dimana kau dimakamkan…!!. Ya Rabb…tapi kami mencoba ikhlas…..karena kami yakin doa ini akan Ia sampaikn paadamu….
17 Agustus 2009
Aku masih terpekur, merenung…..Ternyata terlalu banyak sisi yang belum aku ketahui, persaudaraan kami selama ini ternyata belum mampu untuk membuka tabir rahasia yang selama ini tersembunyi..Sebagian dari sisi-sisi itu kini Allah bukakan untuk kami…Ya Rabb, begitu berat buat kami, karena sisi-sisi itu tak pernah terduga sebelumnya di benak kami, bahkan terlintaspun tidak….Tapi kami sadar kita semua hanya manusia biasa yang berusaha mengukir setiap sisi-sisi kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, walaupun terkadang sisi-sisi itu ada kalanya adalah suatu hal yang tidak diinginkan sekalipun…
18 Agustus 2009
Selalu ada hikmah dalam setiap perjalanan…termasuk hikmah yang aku dapatkan dari mu sahabat… kau ajarkan aku untuk menggoreskan kisah di setiap perjalanan hidup ini, agar suatu saat dapat dikenang… kau ajarkan aku bahwa hidup ini harus menjadi sejarah, bukan hanya hidup yang berlalu begitu saja…kau ajarkan aku untuk bersikap terbuka kepada diri sendiri dan keluarga…. kau menunjukkan kepadaku bahwa hidup itu penuh dengan ujian….kau inggatkan aku bahwa istiqomah itu sulit tapi pasti kita mampu ketika kita terus berusaha…Terimkasih sahabat….karena kau ingatkan kami bahwa hidup ini hanya sesaat…
Selamat jalan sahabat, semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisiNya… Akan kami lanjutkan perjuangan yang belum selesai ini...
Kotabumi, 18 Agustus 2009
Mengenang 3 hari kepergian saudara, sahabat kami…
Jumat, 24 Juli 2009
Sebuah kisah tentang Ukhuwah...
Apa perasaanmu jika mendapat kritikan/teguran (pedas) ??
Sakit hati? Sebal? Atau senang..??..
Yaah, plih sja dr ketiga choice diatas,,atau ada pilihan rasa yg lain???
Tp sy yakin 70% bhkan mgkin 80% dr kita akn merasakan sakit hati, sebal dan sgala mcam rasa yg mnjadi tmn2ny... Apalagi jk kritik/teguran it dsampaikan dg cra yg krg baik..
Ternyta teguran it tdk selamany menyakitkan,, Mngkin sakit d awal tp akn mbwt qt brfikir stelahny, dan mudah2an hati & tindakan sgr merealisasikan perubahan...
Tp klw kritik/teguran dsampaikn dg cra yg 'berantai'...???
Jd inget bbrp wkt yg lalu mndapat sbuah sms dr seorang sahbat , beliau mndapat sms jg dr sahabatny dan mgkin sahabatny jg mndapat sms dr sahabatny yg lain (**jd panjang dah urusan,,, ini mah namany gosip berantai bkn:( upss...),,
Bliau menanyakan ssuatu yg mbwt hati brgejolak, sbuah kritikan dr sahbatny utk diriku ttg ssuatu yg mnjadi masa lalu bagiku...oke lah, kusambut niat baikmu kawan & tlah ku jelaskn smw kpdmu...
Kmudian bbrp hari lalu ad pula sms yg msuk dr seorang sahabat, beliaupn mndpt teguran dr sahbatny utk diriku......hmm...jujur kawan yg ini sngguh telah menggoreskan luka di hati ini.... (*mgkin hati trlalu lunak atw kta2mu yg trlalu tajam), dan cranyapun sama dg berita 'berantai' tp yg lbh parah berita mjd dilebih2kan,,,
Bbrp hari ku evaluasi,, ap yg salah dr smw ini????...tak mgkin ad asap jk tdk ada api....Ku coba sgt keras utk mgiklaskan smw...perlahan tp pasti........insyAllah....
Ku ingin brbgi hkmah pd smw kawan...
Bkn...bkn ttg larangan kritikan/teguran...bukan itu...
Tapi, ttg segumpal darah yg trlalu lunak dan mdah dlukai...
Ttg cara merealisasikan ukhuwah tnpa menyakiti...
Ukhuwah it indah dan dilahirkan dr benih mahabbah (cinta), sungguh d dalamny tdk ada GHIBAH apalagi FITNAH....Ukhuwah sungguh indah, krn ada teguran yg indah pula...
Trkadang tnpa sadar qt salah dlm merealisasikan cinta pd sbhat2 qt...
Niatny ingin mngingatkan, eh malah justru mgumbar aib saudarany sndiri...
Coba liat contoh diatas,, 'kritikan berantai', ini yg ingin sy garis bawahi...
Bukankah shrusny jk qt mndpt cela dr saudra qt yg ln alangkah baikny jk qt lgsung tabayun (klarifikasi) kpd org ny langsung???..tnpa hrs melalui 'proses' yg panjang kmudian bru smpai k org yg brsangkutan??....Lalu apa bedany qt sama mereka yg mjadi presenter2 gosip??...(yaah bedany klw mrk yg dgosipin artis lah klw qt rakyat sndiri,, trus mrk kn terang2an lah klw qt smbunyi2...???)
Mgkin trkadang qt tdk sadar,, niat qt mmg sungguh mulia yakni mngingatkn saudara qt,, dan ini harus, dan kudu terus dlakukan....mengingatkan dlm kbenaran & kesabaran...
Tp hal yg plg pnting adlh qt jg brkwajiban menjaga aib saudr2 qt...
Skali lgi sy hny ingin brbgi hkmah kawan,,,
Mgkin smpai detik ini sy pun blm bs merealisasikan cinta dg benar.....Byk hati yg sama yg sdh trluka krn lisan...mhon keikhlasan ats sgla yg tdk brkenan...
Sya brsyukur bhkan sgt brsyukur msh ad Kamu, Anda, Antm wa antuna, saudara2 saya yg msh bs selalu mengingatkan....
Mari brsma saling MENJAGA....
Menjaga saudara2 qt dr kekhilafanny,,
Menjaga aib2ny,,
Menjaga hatinya,,
dan
Menjaga ukhuwah ini agar tetap indah,,
Ukhibkfillakum....^^
Special to para sahabat...^^
Kamis, 16 Juli 2009
BURUNG PATAH SAYAP (sebuah catatan dakwah seorang ukhti)

Ukhti, aku selalu mengagumi sayap-sayapmu yang tak pernah berhenti mengepak dan senantiasa terbang tinggi dan kian tinggi. Kecepatan dan gelombang ruhiyahmu pun sangat luar biasa. Dirimu, aktivis dakwah yang tak pernah kenal henti berjuang, dinamis, dan haroki, mewakili motomu tentang jangan pernah diam dan berhenti bergerak, karena diam dapat mematikan.
“Ustadz, apakah usia perjuangan dakwah akhwat begitu terbatas? Terbatas oleh usianya, pekerjaannya, dan terbatas oleh amanahnya dalam rumah tangga?” Tanyaku suatu hari pada seorang ustadz. “Kalau begitu aku iri pada teman-teman ikhwan seperjuanganku. Mereka dapat cuek untuk tidak memikirkan pernikahan. Toh setua apapun kelak mereka mau menikah, mereka dapat dengan mudah menikahi akhwat yang lebih muda. Jika akhwat, semakin tua… Adakah ikhwan yang berkenan padanya?” Aku masih dengan pertanyaan polosku. Ustadz hanya tersenyum… I know.. Itu berarti aku sendiri tahu jawabannya. Dungdungdungdung…..
Fenomena ini mungkin mengenai semua lini dakwah. Saat sebagian akhwat berhenti dari aktivitas dakwahnya justru setelah ia menikah. Aku mencoba merenungi dalam-dalam. Pasti ada yang salah, (bisa jadi pemahamanku, pola pikirku) ya…, pasti ada yang dapat kujadikan pelajaran. Dalam benakku, pernikahan di jalan dakwah adalah pernikahan dua aktivis yang bertujuan memperkokoh tandzhim dakwah, menyatukan kekuatan, dan mencetak generasi baru jundullah. That’s the point, namun dalam kenyataannya seringkali kondisi ini tidak se-idealis yang ku bayangkan… Ada berbagai situasi dan kondisi yang realistis yang harus dicermati. Dan aku belajar banyak, dari pernikahan saudaraku, sahabat-sahabatku, patner-patner dakwahku…
Bidadari, menikah adalah sunnatullah dan sunnah Rasulullah bagi setiap muslim. Ya, of course, karena akhwat adalah tulang rusuk yang bengkok. Harus ada yang meluruskannya dengan penuh kesabaran kalau tak ingin patah. Pernikahan sepasang aktivis dakwah haruslah karena dakwah (terlepas dari berbagai fenomena yang ada saat ini; VMJ (virus merah jambu), take in, atau hubungan tanpa status). Dan saat menikah di jalan dakwah, maka proyek dakwah dalam keluarga adalah konsekuensi logis dari pernikahan para aktivis.
Namun bagi akhwat, ada banyak hal baru yang nembuatnya harus berada dalam dunia yang mungkin berbeda. Tak jarang menghentikan sementara gerak langkahnya (terlebih saat buah hati telah hadir dalam kehidupannya). Namun ini hanya sementara, sampai jundi kecilnya mulai bisa diajak berjihad. Right??? Maka menjadi amanah bagi keduanya untuk saling mengingatkan, agar mujahidah dakwah tak bagai burung patah sayap.
Aku yakin engkau tahu benar bidadari, bahwa sebagai akhwat aktivis dirimu memiliki banyak potensi. Kemampuan manajerial, strategi dakwah, membina, kaderisasi, dan banyak hal lainnya yang sebenarnya tidak terbatas. Apakah harus berakhir di gerbang pernikahan? Meski ada amanah lain yang juga tak kalah menantangnya, menjadi madrasah terbaik, bidadari terbaik di rumahnya. Namun potensi itu punya hak untuk terus berkembang, jangan dibiarkan padam atau meredup. Potensi itu harus terus dinamis dan haroki, untuk membuat satu karya terbaik bagi umat. Ada banyak kader akhwat, namun mengapa masih sulit untuk mencari mentor? Mengapa masih sulit untuk mencari pengisi ta’lim? Mengapa begitu sulit untuk mencari aktivis akhwat di lini dakwah ini? Nikmat tarbiyah punya satu konsekuensi logis bagi para jundinya, yaitu bergerak dan beramal, untuk satu cita IQQOMATUDIEN (menegakkan dienNya).
Entahlah, kadang tanya ini tak berujung jawaban. Satu hal yang pasti harus terus kita benahi adalah sebuah sistem yang terbaik untuk mengelola potensi para umahat. Dan tarbiyah sebenarnya telah menjadi wasilah yang tepat. Namun terlepas dari sistem ini, ada satu point yang lebih utama. Niat, ghirah, tadhiyah, hamasah dari para aktivis dakwah akhwat itu sendiri, untuk terus menjadi cahaya umat, tidak semata menjadi cahaya di rumahnya saja. Maka kepak sayap itu akan terus berkembang dengan dua kekuatan besar dalam sebuah rumah tangga yang tak ubah bagai sebuah markas jihad. Bagai sayap burung, ia kan terus terbang lebih tinggi. Tak kenal henti, karena ada tujuan bersama yang begitu indah… Jannah dan pertemuan dengan-Nya.
Bidadari, sungguh…, tidak ada yang membedakan usia perjuangan dakwah akhwat dan ikhwan. Mungkin bentuk dan kadarnya saja yang berbeda. Namun semangat dan gelora jihadnya tidak boleh berbeda. Karena kelak dihadapan Allah, hanya ketaqwaanlah yang membedakan. Bukan gender, suku, rupa seseorang. (Dan aku tidak mau mengalah, juga tidak mau berhenti berfastabiqul khoirot dengan teman-temanku….. Duh…. Nih kepala terbuat dari apa sih?).
Ukhti fillah, para aktivis dakwah, akhwat, dan umahat. Gerbang pernikahan adalah awal fase baru dalam kehidupan (pernikahan bukanlah hidup baru, hanya sebuah fase baru, karena kehidupan baru kita adalah saat kita bertemu Rabb kita. Saat nyawa meregang dari tubuh kita, saat kita akan berhadapan dengan hari yang sangat berat untuk hisab kita. Itulah hidup baru kita, kematian dunia untuk sebuah kehidupan abadi di akhirat kelak). Gerbang itu bukan untuk menutup semua potensi kita, tapi justru laboratorium pengembangan kapasitas dakwah kita. (Berat menulis seperti ini, karena Uz belum bisa membuktikannya alias konsulen teoritis saja).
Saat memasuki rumah dakwah baru, maka saat itulah genderang jihad dibunyikan untuk melihat sejauh mana dua kekuatan besar tersebut berkolaborasi membangun sebuah kekuatan yang dasyat untuk menjadi kemanfaatan yang besar bagi masyarakatnya, negaranya, dan terutama bagi diennya. Dan PR ini bukan main-main, agenda ini harus senantiasa di evaluasi bersama. Karena kita semua adalah du’at, nahnu du’at qobla kuli syai (kita adalah da’i sebelum yang lainnya ).
Maka ukhti fillah, akhwat, dan umahat bantulah para akhwat aktivis untuk tidak fobi terhadap pernikahan. Dengan segala keterbatasan, teruslah kepakan sayap jihadmu. Minimal lewat perhatian dan doamu. Karena Nusaibah, Khadijah, Khansa, tidak lahir begitu saja. Generasi shahabiyah bukan impian semu yang tak mungkin hadir di akhir zaman ini. Kita adalah wanita akhir zaman, kita tidak bisa berhenti melangkah dan bergerak karena cita-cita besar kita belumlah futuh hingga dakwah mencapai kemenangannya. Kehidupan kita bukanlah sebatas suami, anak dan segala kesulitan rumah tangga kita. Tapi lebih besar lagi… Ini adalah tantangan bagi saya, meski saya tak pernah mampu meraba masa depan.
Tapi semoga Allah mengistiqomahkan kita, akhwat, dimanapun nanti ukhti berada, mendampingi mujahid manapun…. Jannah itu adalah milik kita juga, maka bertempurlah tuk jadi yang terbaik dari setiap peran yang harus kita jalani. Ini pertempuran kita…. Tuk buktikan pada dunia kita mampu setegar para mujahidah Afgan yang saling menyemangati antar para umahat untuk mendorong para suaminya berjihad dan menutup pintu rumah kala suaminya bermalas-malasan dari dakwah.
Ini pertempuran kita, tuk buktikan pada Allah bahwa Dia tak pernah salah memilih kita menjadi mujahidah dakwahnya… Yang menjadikan suami dan anak bukan fitnah baginya. Namun menjadi kekuatan luar biasa, sekuat para mujahidah dan para umahat Palestina yang tak pernah berhenti melahirkan dan mendampingi mujahid dakwah meski mereka harus kehilangan semua orang yang dicintanya…. Demi izzah Islam.
Ini pertempuran kita… Tuk kalahkah stigma bahwa akhwat bagai burung patah sayap saat ia menikah. Bertempurlah ya ukhti, terutama dengan diri kita sendiri. Karena seringkali ialah musuh terbesar kita.
“ Hai orang-orang yang beriman janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Siapa saja yang berbuat demikian, maka merekalah orang-orang yang rugi…” (Q.S Al Munafiqun : 9).
Karena kau ukhti mujahidah…. Karena kau pendamping mujahid dakwah… Maka sambutlah seruan ini… Semoga kelak kau kan menjadi bidadari surga mulia di jannah-Nya. Wallahualam bishawab
Disinilah sebuah peradaban itu dimulai.....
Peralatan 'hidup' sehari-hari..... (*rada lebay_made on^_^)
My bed, my doll, n my inspiration ^_^
Cermin diri
'Brankas" heuheuheu...
Sahabat setia my compiee,,,,,selalu menemani dikala sibuk dan 'senggang'...
Teman dikala sendiri.... my book collection....
Makanan anak kost...hihi...
Masa-masa ini akan selalu terkenang,,,bahwa disini ku pernah hidup, bahwa disini ku pernah membangun peradaban,,,bahwa disini semua berawal....... My Lovely Dormitory ^_^

Langganan:
Postingan (Atom)






