Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Skins

Powered by Blogger

Kamis, 27 Agustus 2009

Kamu Sudah Tahu, Maka Komitmenlah

Segala puji hanya bagi-Mu, ya Allah. Kepada-Mu segala yang ada di langit dan di bumi bertasbih dengan tidak mengenal lelah, jenuh, dan jemu. Maha Suci Engkau, Ya Allah. Engkaulah yang mensucikan hati-hati hamba-Mu sesuai dengan kehendak-Mu.
Wahai diriku.…
Mari coba tatap dalam-dalam dan bertanyalah siapa kamu? Maka di sana akan terlihat seluruh kelemahan yang ada. Balil insanu ‘ala nafsihi bashirah.

Diriku…, bercerminlah kepada seorang sahabat: Handzalah bin Rabi’ Al-Usaidi r.a. Ia salah satu penulis wahyu yang dengan segala kesadaran dirinya sendiri mengatakan, ”Nafaqo Handzalah, telah munafik Handzalah.”
Diriku…, apa yang terjadi pada diri Handzalah sampai-sampai menegur dirinya sendiri seperti itu? Padahal beliau sangat dekat dengan Rasullullah. Jawabnya tak lain adalah kejujuran diri. Handzalah merasa iman yang dimilikinya terasa kuat ketika berada di dekat Rasulullah saw. Seakan ia menatap surga dan neraka dengan kedua matanya. Namun ketika kembali sibuk dengan keluarganya, dengan aktivitas duniawinya, ia merasakan kondisi dirinya sangat berubah.

Diriku…, dengan kata apa kau harus mengungkapkan kondisimu? Seperti ungkapan Handzalah kah? Atau lebih dari itu? Atau lebih buruk? Ya Allah, ampunilah hambamu ini.

Wahai diriku….
Bukankah kamu juga telah mengenal siapa dirimu? Yang lebih banyak sibuk dengan dunia? Diri yang lemah dalam beribadah, diri yang merasa berat berkorban untuk taat? Diri yang banyak bicara sedikit kerja? Lalu apakah kamu masih terus melakukan itu padahal Allah swt. telah menegurmu: ”Aradhitum bil hayatiddunya minal akhirah, apakah kalian lebih cinta dunia dibanding akhirat?” Astagfirullah!
Diriku…, jika kamu telah tahu segala kekuatan dan kelemahanmu, lalu apa yang akan kau lakukan? Memperbaikinya? Atau, sebaliknya?

Bercerminlah, wahai diriku, kepada sahabat Huzaifah r.a. kala menjawab pertanyaan Rasulullah saw., “Bagaimana kondisimu hari ini, wahai Hudzaifah?” Dengan percaya diri ia menjawab, ”Alhamdulillah, ya Rasulullah, saat ini aku menjadi seorang mukmin yang kuat iman.” Rasulullah saw. bertanya kembali, “Hai Huzaifah, sungguh segala sesuatu itu ada buktinya. Maka apa bukti dari pernyataanmu itu?” Jawab Huzaifah r.a., ”Ya Rasulullah, tidak suatu pagi pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk sampai pada sore hari; dan tiada sore pun yang aku hidup padanya dan aku berharap untuk hidup sampai pagi hari, melainkan aku melihat dengan jelas di depan mataku surga yang penduduknya bercanda ria menikmati keindahannya dan aku melihat neraka dengan penghuninya yang berteriak menjerit histeris merasakan dahsyatnya siksa.”

Diriku….
Adakah kau merindukan surga sehingga gelora semangatmu membahana memenuhi ruas pori-pori jiwamu, tergerak seluruh kesadaranmu untuk bermujahadah dan berjihad meraih ridha-Nya? Dan apakah kamu takut dan miris akan dahsyatnya siksa neraka sehingga tak satu pun sel tubuh ini kecuali berupaya terlindungi dari sengatannya pada hari pembalasan nanti?

Diriku….
Jika kamu telah mengetahui segala kelemahan yang ada , lalu kamu tidak segara menanggulanginya, maka ketahuilah kamu termasuk orang-orang yang merugi! Begitu pula ketika kamu telah mengetahui kekuatanmu dan kamu tidak bisa mempertahankannya, maka kamu pun termasuk orang yang merugi!
Karena itu….
Perbaiki, jaga, dan tumbuh suburkan kekuatan itu agar amal shaleh, ketaatan, dan dakwah tetap terjaga.
Dengarlah, tatkala mendengar jawaban Huzaifah r.a., Rasulullah saw. mengatakan, “Arafta falzam, kamu sudah tahu, maka komitmenlah dengan apa yang kamu tahu.”

Selasa, 25 Agustus 2009

Keutamaan Puasa Ramadhan

Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.’” (HR. Muslim no. 1151)

Dalam riwayat lain dikatakan,

قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى

“Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.’” (HR. Bukhari no. 1904)

Dalam riwayat Ahmad dikatakan,

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

“Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), ‘Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya.’” (HR. Ahmad. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih sesuai syarat Muslim)

Pahala yang Tak Terhingga di Balik Puasa

Dari riwayat pertama, dikatakan bahwa setiap amalan akan dilipatgandakan sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kebaikan yang semisal. Kemudian dikecualikan amalan puasa. Amalan puasa tidaklah dilipatgandakan seperti tadi. Amalan puasa tidak dibatasi lipatan pahalanya. Oleh karena itu, amalan puasa akan dilipatgandakan oleh Allah hingga berlipat-lipat tanpa ada batasan bilangan.

Kenapa bisa demikian? Ibnu Rajab Al Hambali –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan,”Karena puasa adalah bagian dari kesabaran”. Mengenai ganjaran orang yang bersabar, Allah Ta’ala berfirman,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Qs. Az Zumar: 10)

Sabar itu ada tiga macam yaitu
[1] sabar dalam melakukan ketaatan kepada Allah,
[2] sabar dalam meninggalkan yang haram dan
[3] sabar dalam menghadapi takdir yang terasa menyakitkan. Ketiga macam bentuk sabar ini, semuanya terdapat dalam amalan puasa.

Dalam puasa tentu saja di dalamnya ada bentuk melakukan ketaatan, menjauhi hal-hal yang diharamkan, juga dalam puasa seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang menyakitkan seperti menahan diri dari rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga sebagaimana sabar.

Amalan Puasa Khusus untuk Allah

Dalam riwayat lain dikatakan bahwa Allah Ta’ala berfirman, “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.” Riwayat ini menunjukkan bahwa setiap amalan manusia adalah untuknya. Sedangkan amalan puasa, Allah khususkan untuk diri-Nya. Allah menyandarkan amalan tersebut untuk-Nya.

Kenapa Allah bisa menyandarkan amalan puasa untuk-Nya?

[Alasan pertama] Karena di dalam puasa, seseorang meninggalkan berbagai kesenangan dan berbagai syahwat. Hal ini tidak didapati dalam amalan lainnya. Dalam ibadah ihram, memang ada perintah meninggalkan jima’ (berhubungan badan dengan istri) dan meninggalkan berbagai harum-haruman. Namun bentuk kesenangan lain dalam ibadah ihram tidak ditinggalkan. Begitu pula dengan ibadah shalat. Dalam shalat memang kita dituntut untuk meninggalkan makan dan minum. Namun itu dalam waktu yang singkat. Bahkan ketika hendak shalat, jika makanan telah dihidangkan dan kita merasa butuh pada makanan tersebut, kita dianjurkan untuk menyantap makanan tadi dan boleh menunda shalat ketika dalam kondisi seperti itu.

Jadi dalam amalan puasa terdapat bentuk meninggalkan berbagai macam syahwat yang tidak kita jumpai pada amalan lainnya. Jika seseorang telah melakukan ini semua –seperti meninggalkan hubungan badan dengan istri dan meninggalkan makan-minum ketika puasa-, dan dia meninggalkan itu semua karena Allah, padahal tidak ada yang memperhatikan apa yang dia lakukan tersebut selain Allah, maka ini menunjukkan benarnya iman orang yang melakukan semacam ini. Itulah yang dikatakan oleh Ibnu Rajab, “Inilah yang menunjukkan benarnya iman orang tersebut.” Orang yang melakukan puasa seperti itu selalu menyadari bahwa dia berada dalam pengawasan Allah meskipun dia berada sendirian. Dia telah mengharamkan melakukan berbagai macam syahwat yang dia sukai. Dia lebih suka mentaati Rabbnya, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya karena takut pada siksaan dan selalu mengharap ganjaran-Nya. Sebagian salaf mengatakan, “Beruntunglah orang yang meninggalkan syahwat yang ada di hadapannya karena mengharap janji Rabb yang tidak nampak di hadapannya.” Oleh karena itu, Allah membalas orang yang melakukan puasa seperti ini dan Dia pun mengkhususkan amalan puasa tersebut untuk-Nya dibanding amalan-amalan lainnya.

[Alasan kedua] Puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Rabbnya yang tidak ada orang lain yang mengetahuinya. Amalan puasa berasal dari niat batin yang hanya Allah saja yang mengetahuinya dan dalam amalan puasa ini terdapat bentuk meninggalkan berbagai syahwat. Oleh karena itu, Imam Ahmad dan selainnya mengatakan, “Dalam puasa sulit sekali terdapat riya’ (ingin dilihat/dipuji orang lain).” Dari dua alasan inilah, Allah menyandarkan amalan puasa pada-Nya berbeda dengan amalan lainnya.

Sebab Pahala Puasa, Seseorang Memasuki Surga

Lalu dalam riwayat lainnya dikatakan, Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku.”

Sufyan bin ‘Uyainah mengatakan, “Pada hari kiamat nanti, Allah Ta’ala akan menghisab hamba-Nya. Setiap amalan akan menembus berbagai macam kezholiman yang pernah dilakukan, hingga tidak tersisa satu pun kecuali satu amalan yaitu puasa. Amalan puasa ini akan Allah simpan dan akhirnya Allah memasukkan orang tersebut ke surga.”

Jadi, amalan puasa adalah untuk Allah Ta’ala. Oleh karena itu, tidak boleh bagi seorang pun mengambil ganjaran amalan puasa tersebut sebagai tebusan baginya. Ganjaran amalan puasa akan disimpan bagi pelakunya di sisi Allah Ta’ala. Dengan kata lain, seluruh amalan kebaikan dapat menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan oleh pelakunya. Sehingga karena banyaknya dosa yang dilakukan, seseorang tidak lagi memiliki pahala kebaikan apa-apa. Ada sebuah riwayat yang menyebutkan bahwa hari kiamat nanti antara amalan kejelekan dan kebaikan akan ditimbang, satu yang lainnya akan saling memangkas. Lalu tersisalah satu kebaikan dari amalan-amalan kebaikan tadi yang menyebabkan pelakunya masuk surga.

Itulah amalan puasa yang akan tersimpan di sisi Allah. Amalan kebaikan lain akan memangkas kejelekan yang dilakukan oleh seorang hamba. Ketika tidak tersisa satu kebaikan kecuali puasa, Allah akan menyimpan amalan puasa tersebut dan akan memasukkan hamba yang memiliki simpanan amalan puasa tadi ke dalam surga.

Dua Kebahagiaan yang Diraih Orang yang Berpuasa

Dalam hadits di atas dikatakan, “Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya.”

Kebahagiaan pertama adalah ketika seseorang berbuka puasa. Ketika berbuka, jiwa begitu ingin mendapat hiburan dari hal-hal yang dia rasakan tidak menyenangkan ketika berpuasa, yaitu jiwa sangat senang menjumpai makanan, minuman dan menggauli istri. Jika seseorang dilarang dari berbagai macam syahwat ketika berpuasa, dia akan merasa senang jika hal tersebut diperbolehkan lagi.

Kebahagiaan kedua adalah ketika seorang hamba berjumpa dengan Rabbnya yaitu dia akan jumpai pahala amalan puasa yang dia lakukan tersimpan di sisi Allah. Itulah ganjaran besar yang sangat dia butuhkan.

Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا تُقَدِّمُوا لأنْفُسِكُمْ مِنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِنْدَ اللَّهِ هُوَ خَيْرًا وَأَعْظَمَ أَجْرًا

“Dan kebaikan apa saja yang kamu perbuat untuk dirimu niscaya kamu memperoleh (balasan) nya di sisi Allah sebagai balasan yang paling baik dan yang paling besar pahalanya.” (Qs. Al Muzammil: 20)

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُحْضَرًا

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya).” (Qs. Ali Imron: 30)

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ

“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya.” (Qs. Az Zalzalah: 7)

Bau Mulut Orang yang Berpuasa di Sisi Allah

Ganjaran bagi orang yang berpuasa yang disebutkan pula dalam hadits di atas , “Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”

Seperti kita tahu bersama bahwa bau mulut orang yang berpuasa apalagi di siang hari sungguh tidak mengenakkan. Namun bau mulut seperti ini adalah bau yang menyenangkan di sisi Allah karena bau ini dihasilkan dari amalan ketaatan dank arena mengharap ridho Allah. Sebagaimana pula darah orang yang mati syahid pada hari kiamat nanti, warnanya adalah warna darah, namun baunya adalah bau minyak kasturi.

Harumnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah ini ada dua sebab:

[Pertama] Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa puasa adalah rahasia antara seorang hamba dengan Allah di dunia. Ketika di akhirat, Allah pun menampakkan amalan puasa ini sehingga makhluk pun tahu bahwa dia adalah orang yang gemar berpuasa. Allah memberitahukan amalan puasa yang dia lakukan di hadapan manusia lainnya karena dulu di dunia, dia berusaha keras menyembunyikan amalan tersebut dari orang lain. Inilah bau mulut yang harum yang dinampakkan oleh Allah di hari kiamat nanti karena amalan rahasia yang dia lakukan.

[Kedua] Barangsiapa yang beribadah dan mentaati Allah, selalu mengharap ridho Allah di dunia melalui amalan yang dia lakukan, lalu muncul dari amalannya tersebut bekas yang tidak terasa enak bagi jiwa di dunia, maka bekas seperti ini tidaklah dibenci di sisi Allah. Bahkan bekas tersebut adalah sesuatu yang Allah cintai dan baik di sisi-Nya. Hal ini dikarenakan bekas yang tidak terasa enak tersebut muncul karena melakukan ketaatan dan mengharap ridho Allah. Oleh karena itu, Allah pun membalasnya dengan memberikan bau harum pada mulutnya yang menyenangkan seluruh makhluk, walaupun bau tersebut tidak terasa enak di sisi makluk ketika di dunia.

Inilah beberapa keutamaan amalan puasa. Inilah yang akan diraih bagi seorang hamba yang melaksanakan amalan puasa yang wajib di bulan Ramadhan maupun amalan puasa yang sunnah dengan dilandasi keikhlasan dan selalu mengharap ridho Allah. Semoga kita dapat meraih beberapa keutamaan di atas dari amalan puasa Ramadhan yang kita lakukan nanti. Semoga Allah memberi kita selalu ilmu yang bermanfaat, rizki yang thoyib dan amalan yang diterima.

[Pembahasan ini disarikan dari Latho'if Al Ma'arif, Ibnu Rajab Al Hambali, 268-290, oleh Muhammad Abduh Tuasikal]

***

Penyusun: Muhammad Abduh Tuasikal
Artikel www.muslim.or.id

KERUDUNG WANITA ATAU JILBAB(PERINTAH ALLAH YANG SUDAH DILUPAKAN UMAT ISLAM)

Ada satu peribahasa pendek, sederhana, tetapi dalam artinya, yang berbunyi sebagai berikut: “Tak Kenal Maka Tak Sayang” Sesuai dengan peribahasa diatas, ada satu perintah Allah yang penting yang hampir tak dikenal atau dianggap enteng oleh umat Islam, yaitu keharusan wanita memakai kerudung kepala.

Keharusan kaum wanita memakai kerudung kepala tertera dalam surat An Nur ayat 31 yang cukup panjang, yang penulis kutip satu baris saja, yang berbunyi sebagai berikut. : “Katakanlah kepada wanita yang beriman… … … . . Dan hendaklah mereka menutupkan kerudung kepalanya sampai kedadanya”… … . .

Dan seperti yang tercantum dalam surat Al Ahzab ayat 59 yang artinya sebagai berikut. : “Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isteri engkau, anak-anak perempuan engkau dan isteri-isteri orang mu’min, supaya mereka menutup kepala dan badan mereka dengan jilbabnya supaya mereka dapat dikenal orang, maka tentulah mereka tidak diganggu (disakiti) oleh laki-laki yang jahat. Allah pengampun lagi pengasih”.

Perintah Allah diatas adalah jelas dan tegas yang wajib hukumnya bagi kaum wanita sebagaimana dinyatakan Allah pada pembukaan surat An Nur yaitu : “Inilah satu surah yang Kami turunkan kepada rasul dan Kami wajibkan menjalankan hukum-hukum syariat yang tersebut didalamnya. Dan Kami turunkan pula didalamnya keterangan-keterangan yang jelas, semoga kamu dapat mengingatnya”.

Dari bunyi ayat diatas jelaslah wanita yang tidak memakai kerudung telah melakukan dosa yang besar karena ingkar kepada hukum syariat Islam yang diwajibkan oleh Allah.

Perintah Allah diatas ditegaskan lagi oleh Nabi Muhammad S.A.W. dalam hadist beliau yang artinya : “Wahai Asma! Sesungguhnya seorang perempuan apabila sudah cukup umur, tidak boleh dilihat seluruh anggota tubuhnya, kecuali ini dan ini, sambil rasulullah menunjuk muka dan kedua tapak tangannya”.

Sekarang kalau kita keliling diseluruh Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei, sedikit sekali kaum wanita Islam yang memakai kerudung kepala, umumnya hanya anak-anak gadis pesantren. Jumlah kaum wanita yang memakai kerudung kepala bisa dihitung dengan jari, tidak ada artinya dari jumlah penduduk Islam yang lebih kurang 180 juta.

Kalau begitu gambarannya, banyak sekali kaum wanita yang masuk neraka, cocok sekali dengan bunyi hadits dibawah ini, yang artinya sebagai berikut. : “Saya berdiri dimuka pintu soranga, tiba-tiba umumnya yang masuk ke soranga orang-orang miskin, sedangkan orang yang kaya-kaya masih tertahan, hanya saja bahagian mereka telah diperintahkan masuk neraka, dan aku berdiri di pintu neraka maka kebanyakan yang masuk neraka wanita.

Banyak kaum wanita yang masuk neraka, semata-mata karena didalam hidupnya tak mau memakai kerudung kepala atau Jilbab, didalam neraka akan mendapat siksaan yang berat sekali sebagai mana diceritakan Nabi Muhammad dalam hadits beliau yang artinya sebagai berikut. ; “Wanita yang akan digantung dengan rambutnya, sampai mendidih otak dikepalanya didalam neraka, ialah wanita-wanita yang memperlihatkan rambutnya kepada laki-laki yang bukan muhrimnya” Hadits diatas adalah bahagian akhir dari hadits nabi Muhammad yang cukup panjang, yang menceritakan berbagai macam siksa neraka yang diperlihatkan Allah waktu beliau pergi mikraj. Waktu beliau menceritakan nasib kaum wanita yang berat siksanya didalam neraka karena tak mau memakai kerudung kepala atau jilbab didalam hidupnya, beliau meneteskan air mata.

Begitulah Nabi Muhammad S.A.W. menangisi nasib kaum wanita dari ummatnya nanti di akherat, tetapi sekarang kalau kaum wanita Islam disuruh memakai kerudung kepala, banyak alasannya ada yang mengatakan fanatika agama, sudah kuno tidak cocok dengan zaman, panas dan lain sebagainya. Sikap kaum wanita di zaman sekarang sungguh bertolak belakang dengan sikap kaum wanita di zaman dahulu diwaktu ayat kerudung kepala itu turun, sebagaimana diceritakan oleh Aisyah, istri Nabi Muhammad S.A.W. berikut ini : “telah berkata Aisyah : Mudah-mudahan Allah memberi rahmat atas perempuan-perempuan Muhajirat yang dahulu. Diwaktu Allah menurunkan ayat kerudung itu, mereka koyak kain-kain berlukis mereka yang belum dijahit, lalu mreka jadikan kerudung”.

Sikap wanita Islam di Medinah pada waktu turunnya ayat kerudung itu, betul-betul cocok dengan seorang pribadi beriman, sebagai yang digambarkan Allah didalam Al Qur’an, yaitu jika mereka mendengar ayat-ayat Allah dibacakan, mereka lalu berkata :”Kami mendengar dan kami patuh”.

Tetapi sekarang sikap sebagian wanita Islam, jika dibacakan ayat mengenai keharusan memamakai Jilbab, mereka berkata :”Kami mendengar tetapi kami ingkar. ” Kalau begitu sikap kaum wanita Islam terhadap ayat Jilbab ini, betul tidak cocok dengan pengakuannya kepada Allah didalam shalat yang berbunyi sebagai berikut:

“La syarikallahu wabidzalika ummirtu wa anna minal muslimin. ” Yang artinya “Tiada syarikat bagi Engkau dan aku mengaku seorang muslimah”

Seorang wanita yang mengaku dirinya seorang muslimah, yaitu tunduk dan patuh kepada seluruh perintah Allah, harus berpakaian muslimah didalam hidupnya, yaitu terdiri dari jilbab dan pakaian yang menutup seluruh anggota tubuhnya, berlengan panjang sampai pergelangan tangannya dan memakai rok yang menutup sampai mata kakinya. Kalau mereka tidak berpakaian seperti diatas, mereka bukan disebut wanita muslimah. Jadi pengakuannya didalam shalat yang berbunyi :”Aku mengaku seorang muslimah” adalah kosong, dusta kepada Allah.

Seseorang yang bersumpah palsu saja dimuka pengadilan adalah berat hukumannya, apalagi seseorang yang berjanji palsu dihadapan Allah, tentu berat hukumannya didalam neraka, yaitu sampai digantung dengan rambutnya hingga mendidih otaknya.

Kaum wanita menyangka bahwa tidak memakai jilbab adalah dosa kecil yang tertutup dengan pahala yang banyak dari shalat, puasa, zakat dan haji yang mereka lakukan. Ini adalah cara berpikir yang salah harus diluruskan. Kaum wanita yang tak memakai jilbab, tidak saja telah berdosa besar kepada Allah, tetapi telah hapus seluruh pahala amal ibadahnya sebagai bunyi surat Al Maidah ayat 5 baris terakhir yang artinya :”… . . Barang siapa yang mengingkari hukum-hukum syariat islam sesudah beriman, maka hapuslah pahala amalnya bahkan diakhirat dia termasuk orang-orang yang merugi

Minggu, 23 Agustus 2009

MARHABAN YA RAMADHAN




Sebait kata, sejuta makna

Sejak saat itu dia masih disini,,
Berdiri berbalut rindu...
Dia tak pergi,
wlwpun kau mgkin telah pergi,,,

Tapi sejak saat itu dia masih disini,,
Hanya lambaian tangan yg ia berikan ktika itu,,
lalu kau mungkin menjauh,,

Tapi taukah kau,
ternyta dia masih disini.....!!
Dia tak mampu pergi,,
Hanya beberapa kali geseran2 kecil langkah itu trcipta,,
tapi tetap saja ia tak mampu pergi....

23/08/09_earthcity ^_^

Jumat, 21 Agustus 2009

Sepenggal kata yg bermakna^^

Ku hanya ingin bilang
Rasa itu tak mampu hilang….sejak saat itu dia tak pergi…
Ia tetap berada di sini, berbalut rindu yang terkadang menghujam..
Cukup, ku hanya ingin bilang itu… ^_^

Kamis, 20 Agustus 2009

Dialog Hati



Ku berubah..katanya…
Aah masa’ iya????
Iya…kau berubah…!
Kau berubah setelah menemukan dia dan mereka….

Kalau begitu aku ingin berterimaksih kpd dia dan mereka yang telah membuatku berubah
Karena kusemakin sadar bahwa inilah kehidupan..
Dunia nyata menuntut ku untuk seperti ini, jawabku…
Ku hanya ingin jujur pada diri sendiri,
Ku ingin bebas tanpa pengekangan oleh sesuatu yang tak pantas mengekang

Apakah kau lelah? tanyanya..

Ya..aku lelah..
Lelah dengan belenggu kepura-puraan yang terus mengiringi
Dan kelelahan ini menuntut ku untuk mengambil langkah
Keluar dari kelelahan itu sendiri…

Kotabumi, 21 Agustus/30 Sya’ban 1430H
11.00 pm

Sisi-sisi itu...??

21 Agustus 2009

Allah kembali tunjukkan sebuah sisi…namun sisi yang ini berbeda dari sisi kemarin..
Sebuah sisi baru yang juga menggugah sebuah jiwa…Tepatnya jiwa ku mungkin..

Kebenaran dari sisi-sisi ini tak pernah kuduga sebelumnya..
Bahkan terlintas di pikirankupun tidak..
Sisi-sisi itu sungguh sangat mengejutkan..

Aku mengira aku telah mengenalmu dengan baik..
Aku mengira kau takkan mungkin melakukan itu…
Tapi kenyataan ini membuat ku semakin berpikir…

Aaah semakin kusadar, kehidupan itu memang penuh dengan misteri…
Termasuk hidupmu, hidupku dan hidup kita tentunya…
Semua pasti punya cerita sendiri

Awal mulanya aku kecewa, sungguh…
Kau tahu apa yang kurasa?? KECEWA..!
Aku juga tidak mengerti mengapa ku kecewa,
Mungkin karena ku tak pernah menyangka sebelumnya
Ku kira jalan itu begitu lurus, tapi ternyata Tidak..!

Cukup lama ku bisa menerima, tapi akhirnya kusadar
Aku, kau dan kita adalah manusia biasa..
Yang hanya mencoba mengukir setiap langkah dan goresan tinta kehidupan dalam garis yang Ia tetapkan..
Walaupun mungkin terkadang langkah itu atau tinta itu terpaksa berwarna.

Aku sadar karena ku melihat cermin itu pada diriku sendiri..
Mungkin jika Allah membukakan sisi2 ku pada mu
Sisi yang kau lihat akan jauh lebih buruk dari sisi yang Allah tunjukkan untukku itu..

Kusadar kawan, aku pun pernah salah,,
Tapi hanya lantaran kasih sayang Allah, ia masih berkenan menutupkan aib-aib itu untukku..
Aku kini tidak kecewa kawan,
Aku justru malu, sungguh….

Aku sadar kau tidak salah, bahkan ketika kau mempunyai rasa itupun kau tidak salah…!!
Aku semakin sadar bahwa hidup itu memang sulit,
Ketika aku berada di posisimu, mungkin aku akan terjerumus lebih dalam lagi..
Kau tidak salah, karena inilah sisi mu, bagian dari hidupmu..

Tapi misteri itu sungguh mengganggu pikiranku……..
Aku melihat kebelakang, kisah-kisah yang sempat tergores pula dalam setiap titik makna hidupku..
Ku sadar bahwa ku juga tidak lebih baik darimu..
Aku malu kawan….

Kau tidak salah karena kau hanya mengungkapkan apa yang kau rasa
Mungkin saja ketika itu kau salah memilih caranya
Sudahlah kurasa cukup,
Sekali lagi aku, kau dan kita adalah manusia
Yang mencoba membimbing fitrah itu tetap berda di jalannya…

Biarkan ini menjadi episode dari sisi hidup mu..
Untuk menjadi pelajaran berharga dari rangkaian episode kehidupan kami..

Rabu, 19 Agustus 2009

Harapku....Selalu....


Ku ingin memaknai hidup ini lebih dalam lagi..
Karena semakin hari, semakin ku sadar bahwa perjalanan ini hanya sesaat
Karena kapan saja Ia bisa menjemput diri ini…

Suatu saat ketika masa itu tiba,
Ku takut tak ada yang dapat dikisahkan orang lain tentang diriku..
Tak ada yang dapat menceritakan diriku dengan sebnarnya…
Mereka hanya bisa berasumsi dengan pendapat mereka masing-masing…
Ya Rabb, ku tak ingin begitu…

Kapan saja, dimana saja aku akan meninggalkan ataupun mungkin ditinggalkan..
Diri yang hina ini hanya mampu berharap
Jika saatnya tiba maka panggillah kami dalam kondisi yang terbaik
Yaitu kondisi sebaik-baiknya hamba dalam menghadap Rabbnya..
Kondisi yang sangat dirindukan setiap insan…
Khusnul Khotimah…amiin…

Kotabumi, 18 Agustus 2009
Pukul.21.51 WIB

Kau ajarkan aku untuk menggoreskan kisah di setiap perjalanan hidup



15 Agustus 2009

Pukul 22.00 aku terbangun dari tidur, udara malam yang panas membangunkan tidurku malam ini. Sekitar pukul 23.00 ku dapat berita seorang saudara kami mendapat kecelakaan dan dalam kondisi kritis. Muhammad Luthfie, seorang yang telah lama ku kenal, seorang sahabat terbaik buat kami…Aku terus berdoa Ya Rabb, Engkau Maha Penyembuh, maka sembuhanlah saudaraku itu…Beberapa menit setelah itu (sekitar pukul 23.15) kembali ku mendapat telepon mengabarkan bahwa kau telah pergi menghadapNya..Entah apa yang kurasakn saat itu, kucoba mengkondisikan diri benarkah berita yang kudengar ini??, Kumasih berharap ini semua hanya mimpi, dan Allah segera membangunkan aku dari tidurku…Ya Rabb bangunkan aku….!!.

Tapi kusadar semua ini ternyata bukan mimpi, ini nyata…!! Kami telah kehilangan salah satu saudara terbaik kami malam itu. Kami pun harus ikhlas dan relakan dia pergi mendahului kami..Sesaat ketika itu juga pikiranku terbawa flashback kebelakang, mengenang masa-masa engkau hadir dalam setiap perjuangan yang kita lakukan bersama, kata-kata terakhir bahkan setiap nasehat yang kau berikan…Ya Rabb begitu cepat kau panggil saudara kami itu,, bahkan belum sempat hamba meminta maaf kepadanya…

Ku teringat ketika suatu hari,(hanya bbrp minggu sblm kau pergi) kau mengirimkan sms “Vi, mana nih tulisan alumni, Blog IKA sepi banget, nulis dong, ente kan sekarang punya banyak waktu..”, kau tahu ekspresiku saat itu?? ‘Sebal..!” yupz…jujur ku sebal mendengarnya, dalam hati ku berkata “Kenapa gak ente aja yang nulis! Uuhgggh…Proyek Profil IKA aja kaupun blm sempat kirimkan sekarang malah nyuruh2 nulis lagi…!,,”..Tapi ku tak balas sms itu, ya sudah biarlah beliau ‘berkicau’ pikirku saat itu…Tak beberapa lama sms mu kembali masuk “Vi, af1 ya kalau kata2 ana tadi menyinggung, bukan begitu maksudnya ana terus menunggu tulisan dari antum dan para alumni, tulisan yang bs menggugah”…Wah, keren juga dia ternyata tau apa dampak dari smsnya tadi terhadap kondisi hati ku saat itu…tapi tetap tak kubalas sms mu, kuanggap aja angin lalu…kemudian tak beberapa lama kau kirimkan lagi sms “Vi, sms ane kok nggak ditanggapi??”…Aiih kenapa ni orang, pikirku saat itu…lebay dech..!!, tetap tak ku balas sms itu…Tak lama kuterima lagi sms darimu “Vi, ngomong geh, ane lebih baik di cerewetin akhwat daripada di diem’in kayak gini”…Lagi-lagi ku heran ada apa sih dengan ni orang, gak biasanya kayak gini..aneh, bodo’ ah, cuekin aja pikirku saat itu…Lagi-lagi tak kubalas juga sms itu,,, Lalu kau sms lagi “Ya sudah kalau gitu maapin ane lahir dan bathin ya vi…”..Ku baca sekilas lalu ku taruh lagi handphone ku…kemudian ku lanjutkan aktivitasku…Tak beberapa lama handphone ku kembali berdering, bukan handphone yang tadi, tapi handphone ku yang lain…Kubuka dan kubaca,,, aah..ternyata lagi-lagi ini sms darimu..”Vi, tadi ana kirim beberapa sms ke no AS antm”… Ya elah sudah tau, dari tadi juga udah dibaca….!, Kembali kulanjutkan aktivitasku dan tak kubalas sms itu…

Keesokan harinya, sudah menjadi kebiasaan ku setiap pagi membuka kembali inbox pesan di hp ku…Kubaca kembali sms2 darimu…kemudian aku berfikir, begitu jahatnya diri ini telah bersikap ‘cuex’ kayak gini, akhirnya tergerak hati ini untuk balas sms itu… “Iya, InsyAllah gakpa2, nanti ana usahakan untuk menulis”. Jawaban singkat dariku…aah tak perlu berbasa-basi bukan? Pikirku saat itu…Tak ada lagi tanggapan darimu saat itu…Ya sudahlah, bukan masalah bagiku….Dan akhirnya semua itu berlalu begitu saja………

Akhirnya ku sadar sekarang…permintaan maaf darimu, mungkin itu salah satu tanda kepergianmu… Saudaraku, maafkan aku….

16 Agustus 2009

Pagi ini kami akan berangkat ke Bekasi untuk menyusul mengantarkan kan mu, karena jenasahmu telah dibawa lebih dulu ke Bekasi, tempat tinggalmu…Kami berangkat menggunakan 2 mobil, sungguh banyak yang ingin mengantarkanmu saudraku, bahkan beberapa saudara kita yang jauh disana (Nia, Yuli, etc) sangat ingin menyertai mengantarkanmu, tapi karena keterbatasan waktu dan tempat mereka hanya menitipkan salam dan mengirimkan doa untuk mu dan keluargamu…Kau tetap akan selalu menjadi saudara dan sahabat terbaik kami…Selamat jalan…

Pukul 11.30 kami masih di kapal menyeberangi selat Sunda, mendapat kabar bahwa jenasahmu telah tiba dirumah orang tuamu, setelah itu akan segera dimandikan dan disholatkan…Ya Rabb, hanya satu keinginan ku saat itu, izinkan aku melihat jasadmu untuk yang terakhir kalinya…Namun perjalanan kapal ini sangat lambat terasa, aku putus asa,, mungkin aku takkan pernah melihat mu lagi saudaraku…Ya Rabb, ikhlaskan kami…Pukul 14.30 kapal kami baru tiba di Merak, dan mendapat kabar bahwa kau akan segera dimakamkan… Ya Rabb, kami ikhlas walupun berat, bahkan untuk melihat jasadmu untuk yang terakhir kalinya kamipun tak bisa….Tapi beliau milikMu Ya Rabb…

Kami tiba maghrib dirumahmu, disambut ibu dan keluargamu….Keluargamu bilang engkau telah dimakamkan, dan makammu jauh dari rumah dan tak mungkin kalau kami kesana malam ini… Ya Allah, tangiskupun tumpah saat itu juga, Allah belum mengizinkan kami untuk melihat jasadmu, bahkan mengantarkanmu ke makam, dan saat ini kamipun belum bisa melihat dimana kau dimakamkan…!!. Ya Rabb…tapi kami mencoba ikhlas…..karena kami yakin doa ini akan Ia sampaikn paadamu….

17 Agustus 2009

Aku masih terpekur, merenung…..Ternyata terlalu banyak sisi yang belum aku ketahui, persaudaraan kami selama ini ternyata belum mampu untuk membuka tabir rahasia yang selama ini tersembunyi..Sebagian dari sisi-sisi itu kini Allah bukakan untuk kami…Ya Rabb, begitu berat buat kami, karena sisi-sisi itu tak pernah terduga sebelumnya di benak kami, bahkan terlintaspun tidak….Tapi kami sadar kita semua hanya manusia biasa yang berusaha mengukir setiap sisi-sisi kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, walaupun terkadang sisi-sisi itu ada kalanya adalah suatu hal yang tidak diinginkan sekalipun…


18 Agustus 2009

Selalu ada hikmah dalam setiap perjalanan…termasuk hikmah yang aku dapatkan dari mu sahabat… kau ajarkan aku untuk menggoreskan kisah di setiap perjalanan hidup ini, agar suatu saat dapat dikenang… kau ajarkan aku bahwa hidup ini harus menjadi sejarah, bukan hanya hidup yang berlalu begitu saja…kau ajarkan aku untuk bersikap terbuka kepada diri sendiri dan keluarga…. kau menunjukkan kepadaku bahwa hidup itu penuh dengan ujian….kau inggatkan aku bahwa istiqomah itu sulit tapi pasti kita mampu ketika kita terus berusaha…Terimkasih sahabat….karena kau ingatkan kami bahwa hidup ini hanya sesaat…
Selamat jalan sahabat, semoga Allah memberikan tempat terbaik di sisiNya… Akan kami lanjutkan perjuangan yang belum selesai ini...

Kotabumi, 18 Agustus 2009
Mengenang 3 hari kepergian saudara, sahabat kami…